LAKI-LAKI SEJATI
Karangan Putu
Wijaya
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?
Ibunya tersenyum.
Kenapa tidak?
Ibunya terkejut. Ia memandang takjub
pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona,
karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di
sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi
perempuan yang punya banyak pertanyaan.
Sepasang matanya yang dulu sering
belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu
tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di
depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup
memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam
pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri.
Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.
Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya
paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada
ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan,
apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering
menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari
anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya
sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui, tetapi
semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya.
Setelah menarik napas, ibu itu
mengusap kepala putrinya dan berbisik.
Jangan malu, anakku. Sebuah rahasia
tak akan menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak penasaran untuk membukanya.
Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah
tahu. Hanya karena kamu tidak pernah mengalami sendiri, pengetahuanmu hanya
menjadi potret asing yang kamu baca dari buku. Banyak orang tua
menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu
berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah
sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan kamu
kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga sudah berbeda. Jadi ibu
akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran walaupun itu tidak
menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti
yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?
Sebab di dalam mimpi, kamu sudah
dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang meluap dari berbagai kekecewaan
terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi harapan perempuan. Di situ yang ada
hanya perasaan keki.
Apakah itu salah?
Ibu tidak akan bicara tentang salah
atau benar. Ibu hanya ingin kamu memisahkan antara perasaan dan pikiran. Antara
harapan dan kenyataan.
Aku selalu memisahkan itu. Harapan
adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan
apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan menjadi ilusi, ia hanya
bayang-bayang dari hati. Itu aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya
bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari
yang menyorot, sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang
diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima, meskipun itu
bertentangan dengan harapan.
Jadi kamu masih ingat semua yang ibu
katakan?
Berarti kamu sudah siap untuk melihat
kenyataan?
Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk
mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.
Ibu memejamkan matanya. Ia seakan-akan
mengumpulkan seluruh unsur yang berserakan di mana-mana, untuk membangun sebuah
sosok yang jelas dan nyata.
Laki-laki yang sejati, anakku katanya
kemudian, adalah…
tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.
Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku
serius, aku tak sabar.
Bagus, Ibu hanya berusaha agar kamu
benar-benar mendengar setiap kata yang akan ibu sampaikan. Jadi perhatikan
dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong, karena laki-laki sejati tak bisa
diucapkan hanya dengan satu kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut ibu sambil
memandang ke depan, seakan-akan ia melihat laki-laki sejati itu sedang
melangkah di udara menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki sejati adalah…
Laki-laki yang perkasa?!
Salah! Kan barusan Ibu bilang, jangan
menyela! Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa!
Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak
tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami,
tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti
juga kamu.
O ya?
Bukan karena ampuh, bukan juga karena
tampan laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati
hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya
ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati
karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban.
Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia kaya-raya,
baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah,
tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa,
jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang
lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal.
Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa,
berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki
meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang
pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang
arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?
Seorang laki-laki sejati adalah
seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar,
merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas
dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas
dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan
kehidupan.
Perempuan muda itu tercengang.
Hanya itu?
Seorang laki-laki sejati adalah
seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!
Orang yang konsekuen?
Lebih dari itu!
Seorang yang bisa dipercaya?
Semuanya!
Perempuan muda itu terpesona.
Apa yang lebih dari yang satu kata dan
perbuatan? Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan muda itu memejamkan matanya,
seakan-akan mencoba membayangkan seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok
manusia dan kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya sampai tak sanggup
melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar erangan kecil, kagum, memuja
dan rindu.
Ia mengalami orgasme batin.
Ahhhhhhh, gumannya terus seperti
mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran yang
pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu. Katakan di mana aku
bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?
Ibu tidak menjawab. Dia hanya
memandang anak gadisnya seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah
penasaran.
Di mana aku bisa berkenalan dengan
dia?
Untuk apa?
Karena aku akan berkata terus-terang,
bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan malu-malu untuk menyatakan, aku ingin
dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu.
Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua.
Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang
membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi
kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk menjadi
suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi menantu Ibu, penerus
generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan berjuang untuk
memilikinya.
Dada perempuan muda itu turun naik.
Apa salahnya sekarang wanita memilih
laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan hanya
menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya.
Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa
menjumpai laki-laki itu?
Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu
terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang
itu?
Karena kamu menanyakan sesuatu yang
sudah tidak mungkin, sayang.
Apa? Tidak mungkin
Ya.
Kenapa?
Karena laki-laki sejati seperti itu
sudah tidak ada lagi di atas dunia.
Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan, habis? Kenapa?
Laki-laki sejati seperti itu semuanya
sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya
yang terpekik karena kecewa.
Sudah amblas?
Ya. Sekarang yang ada hanya laki-laki
yang tak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas
tiga. Cap tempe semua. Banyak laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan
dan bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi
laki-laki sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul
jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan
jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan
tidak rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa menggebuki kaum
perempuan yang pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi,
anakku. Jadi kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi
perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi yang tak berguna itu.
Gadis itu termenung.
Mukanya nampak sangat murung.
Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya
dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu aku patah
hati.
Patah hati?
Ya. Aku putus asa.
Kenapa mesti putus asa?
Karena apa gunanya lagi aku hidup,
kalau tidak ada laki-laki sejati?
Ibunya kembali mengusap kepala anak
perempuan itu, lalu tersenyum.
Kamu terlalu muda, terlalu banyak
membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri
dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang
lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar
beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di
dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam
perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku,
cari seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang lari?
Mengurung diri itu lari atau ngumpet.
Ayo keluar!
Keluar ke mana?
Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu
yang terbuka.
Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu termangu.
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih
nyaman?
Kalau begitu kamu mau jadi kodok
kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal
di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!
Tidak cukup! Kamu harus pasang omong
dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat lebih
banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.
Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan
laki-laki sejati.
Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.
Perempuan muda itu tercengang, suara
ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku, membuka
earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua
telinganya, lalu keluar kamar.
Matahari sore terhalang oleh awan
tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis
yang garang itu untuk menjadi bola api yang indah. Dalam bulatan yang hampir
sempurna, merahnya menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit. Silhuet
seekor burung elang nampak jauh tinggi melayang-layang mengincer sasaran. Wajah
perempuan muda itu tetap kosong.
Aku tidak memerlukan matahari, aku
memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke
jalanan!
Untuk apa?
Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap
salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak
apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya,
bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang
laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman
hidupmu!
Perempuan muda itu tecengang. Hampir
saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu memotong. Asal, lanjut ibunya dengan
suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar
mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta,
anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.
Perempuan muda itu tercengang.
Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih
dari itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin
tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia,
bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat
seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan
bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi
seorang laki-laki yang sejati!Teks cerpen karya Putu Wijaya diubah menjadi 5 karya teks puisi.
Yang
Beranjak
Karya Amartya
Salma
Waktu tak mau
menunggu
Rasanya baru
kemarin mengompol
Tiba-tiba kini
sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan
Sepasang mata
yang dulu belekan
Sekarang bagai
sorot lampu mobil pada malam gelap
Sinarnya begitu
tajam
Sekelilingnya
jadi ikut memantulkan cahaya
Namun jalan yang
ada di depan hidungnya sendiri
Jalan yang sedang
ia tempuh
Nampak masih
berkabut
Sebuah
Rahasia
Karya Amartya
Salma
Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya,
kalau kau sendiri tak penasaran untuk
membukanya
Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu,
meskipun sebenarnya kamu sudah tahu
Harapan
Karya Amartya
Salma
Harapan adalah
sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang
kemudian ada di depan mata
Harapan menjadi
ilusi
Ia hanya
bayang-bayang dari hati
Tetapi, apa
salahnya bayang-bayang?
Karena
bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot
Berkat kegelapan,
kita bisa melihat
bagian-bagian yang diterangi cahaya
Hal-hal nyata
yang harus diterima
Meskipun itu
bertentangan dengan harapan
Bukan
Laki-Laki Sejati
Karya Amartya
Salma
Laki-laki disebut
laki-laki sejati,
bukan hanya
karena dia perkasa
Seorang lelaki
tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting
Seorang laki-laki
tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul,
selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban
Seorang laki-laki
meskipun dia seorang idola yang dikagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan,
seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana,
tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati
Lelaki
Sejati
Karya Amartya
Salma
Seorang yang
melihat yang pantas dilihat
Mendengar yang
pantas didengar
Merasa yang
pantas dirasa
Berpikir yang
pantas dipikir
Membaca yang
pantas dibaca
Berbuat yang
pantas dibuat
Berkelakuan yang
pantas dilakukan
Dan hidup yang
sepantasnya dijadikan kehidupan
Hanya itu, sayang
Itulah lelaki sejati
CERITERA
DARI SINGAPURA
Karangan Mochtar
Lubis
Singapura malam hari.
Hotel
Adelphi dekat pinggir laut telah penuh sejak senja. Serombongan turis-turis
Amerika yang turun ke darat dari kapal dengan baju mereka yang berwarna-warna
menyilaukan mata, penuh kembang-kembang dan warna-warna yang menurut mereka
rupanya cocok benar dipakai di hawa panas, telah memenuhi ruangan makan.
Dr.
Bannerjee sambil mengunyah bistiknya menunjuk dengan garpunya kepada rombongan
turis Amerika itu, dan berkata:
“Itulah
orang-orang yang senang dan berbahagia. Mereka lewat satu negeri, dan berpuluh
negeri lain, datang dan pergi membawa perasaan kecewa atau kagum, dan kemudian
pergi terus, dan acap kali membawa kenang-kenangan yang indah-indah saja.” Dia
menghela napas sedikit, dan menatap rombongan turis-turis Amerika yang riuh
rendah bercakap-cakap dan bersenda gurau, dan sebentar seakan ada bayangan
melintas menggelap di muka dokter tua yang baik itu, yang kemudian segera
hilang kembali, dan Dr. Bannerjee berpaling padaku, dan tertawa: “Maafkan orang
tua sebagai saya. Semakin tua, semakin banyak yang mengganggu pikiran,”
katanya.
Aku
tak hendak mendesak dan mengganggu pikirannya, dan tertawa kembali padanya, dan
berkata:
“Anak
muda lebih banyak gangguan pikirannya.:
Kemudian
dia menepuk meja, dan berkata:
“Sekarang
kita bicara perkara kita. Engkau! Berapa lama engkau tinggal sekali ini di
sini? Engkau hendak ke Penang melihat pacu kuda? Kudaku telah kukirimkan ke
sana dengan pesawat terbang. Tak mau lagi aku mengirimkan kuda dengan kapal.
Pertama kali aku berbuat demikian, maka kuda mabuk laut. Tak ada gunanya lagi
di pacuan. Dengan kereta api aku khawatir. Maklumlah sekarang sebentar-sebentar
kereta api diserang gerombolan.”
Saya
kenal Dr. Bannerjee mula-mula sekali ketika delegasi Indonesia mengunjungi
konferensi Inter-Asia di New Delhi dalam tahun 1947, dan ikut aktif dengan
sebuah panitia di Singapura yang banyak memberikan sokongan kepada revolusi
Indonesia, menampung pemuda-pemuda dengan segala macam tugas yang syah dan
tidak syah singgah di Singapura, maka terus saya singgah di rumahnya, dan
menjadi kebiasaan baginya mengajak saya tiap kali singgah di Singapura untuk
makan sekali di rumahnya, dan kemudian makan di luar rumah. Sekali harus makan
di rumahnya bersama dengan keluarganya, isterinya, seorang anaknya perempuan
yang telah gadis, yang setiap kali telah makan menggesek biola dan kemudian
menyanyikan lagu-lagu India dengan suaranya yang merdu, dan tiga orang
anak-anak yang masih kecil-kecil.
“Ada
saatnya laki-laki harus bicara lepas-lepas dari isteri dan anak-anaknya,” kata
Dr. Bannerjee memberi alasan, mengapa kami makan kedua kalinya di luar
rumahnya.
Saya
syak dia suka mengajak saya makan ke luar rumahnya itu untuk menjaga agar
isterinya dan anak-anaknya jangan mendengar pembicaraannya yang suka
lepas-lepas saja tentang segala macam soal. Apalagi jika telah minum beberapa
gelas wiski.
“Apa
beda wiski dengan perempuan,” dia akan bertanya memeluk gelas wiski dengan
jari-jarinya, penuh kasih sayang.
“Tidak
tahu,” kataku.
“Kalau
engkau mabuk wiski, tubuhmu bisa rusak, mungkin jiwamu ikut rusak. Akan tetapi
kalau engkau mabuk perempuan, bukan saja tubuhmu bisa rusak, jiwamu bisa rusak,
tapi rohmu bisa ikut hilang. Jadi perempuan itu lebih berbahaya dari wiski,”
dan dia meneguk wiskinya habis-habis.
Akan
tetapi saya tidak pernah melihat dia mabuk. Sebenarnya juga Dr. Bannerjee
seorang yang amat baik hati, dan ucapan-ucapannya demikian tidak
sungguh-sungguh dimaksudnya, hanya kelakarnya untuk menghilangkan banyak
kenang-kenangannya yang tidak indah barangkali.
Pelayang
hotel datang ke meja kami, dan memberikan pada saya sehelai kertas yang ditulis
dengan petelot tergesa-gesa: bolehkah saya berbicara dengan saudara sebentar?
Dan surat itu tidak ditandatangani. Saya menoleh ke pintu, dan melihat seorang
muda berdiri dekat pintu memandang ke meja kami.
Penuh
ingin tahu saya berdiri dan ke pintu. Dia segera mendapatkan saya, menarik
tangan saya ke luar, dan berdiri di samping sebuah pot besar tempat pohon
palem.
“Nama
saya Ramli,” katanya, “anak Indonesia, bolehkah saya bicara dengan saudara
berdua-dua sebentar saja? Amat penting benar.”
Saya
melihat ke meja dokter Bannerjee duduk, dan kemudian bertanya padanya:
“Sekarang?”
“Terima
kasih,” katanya, “saya dengar dari kawan-kawan saudara ada di sini. Saya
disuruh kawan mengantarkan sebuah bingkisan,” dan dari saku bajunya dikeluarkan
sebuah bungkus kecil. “Ada suratnya,” katanya, “minta disampaikan di
Indonesia.”
“Baiklah,”
kata saya, “tentu akan saya sampaikan, tidakkah Saudara hendak duduk ke dalam?”
Dia
tergesa-gesa menjabat tangan saya, mengucapkan banyak terima kasih, dan
kemudian menghilang saja, dan semuanya seakan mimpi aneh saja bagi saya. Hanya
tanganku memegang bingkisan itu.
Saya
kembali ke meja. Dr. Bannerjee sedang merokok, dan memandang kepada saya. “Seorang
memberikan bingkisan,” kataku padanya, dan meletakkan bungkusan itu di atas
meja. Sesungguhnya sudah ingin saja aku membukanya, dan membaca surat di
dalamnya. Tetapi saya berbuat pura-pura tidak acuh, dan terus makan kembali.
Kami
telah selesai makan, dan setelah menyelesaikan hidangan es krim, Dr. Bannerjee
mengajak untuk pergi berangin-angin di restoran, di atas atas gedung lapangan
terbang Kalang di luar kota.
Ketika
kami sampai restoran belum begitu ramai. Sebuah band music memainkan musik dansa.
Ketika kami lewat band, pemain-pemain mengangguk pada Dr. Bannerjee.
Dia
sering kemari rupanya. Dr. Bannerjee mencari tempat di ujung yang agak kosong
dan tidak ramai. Kami duduk diam-diam sebentar, melepaskan penat mendaki
tangga, dan merasakan segar hembusan angin dari laut. Di bawah terdengar derum
mesin pesawat udara yang baru dipasang. Di menara lampu berkelip-kelip memberi
tanda dan derum pesawat udara menjauh. Musik dansa berhenti sebentar, dan
ketika mulai kembali beberapa pasang berdiri dari meja, dan melangkah ke
tengah. Seorang perempuan muda yang memakai baju strapless merah nyala yang
erat membalut tubuhnya melangkah dengan seorang separuh baya yang tidak menarik
hati ke tengah lantai dansa. Ketika mereka berputar dekat meja kami, perempuan
muda itu mengangguk dan tersenyum pada Dr. Bannerjee.
“Stella,”
kata Dr. Bannerjee setelah mereka berputar kembali menjauh dari meja, kembali
ke tengah lantai dansa, “dia dulu stewardess Malayan Airways, kemudian bekerja
jadi chief hostess di sebuah night club, dan sekarang dipelihara orang itu.
Orang kaya. Kerjanya … ah, siapa yang mau periksa?”
Tanya
saya masuk ke saku hendak mengampil sapu tangan, tersentuh pada bungkusan yang
disampaikan orang di hotel tadi. Tiba-tiba timbul hasrat hatiku hendak segera
membaca surat dalam bungkusan itu.
“Maafkan
aku,” kataku pada Dr. Bannerjee, rasa ingin hatiku mengalahkan sopan santunku,
“aku hendak membaca surat dahulu!”
Dr.
Bannerjee tertawa, dan memanggil jongos memesan minuman.
“Bier
saja,” kataku padanya, ketika dia berpaling bertanya.
Surat
dalam bingkisan itu pendek saja, dari seorang yang tidak aku kenal, dan tidak
pernah mendengar namanya. Dia menerangkan, bahwa dia seorang Indonesia, dan
ikut bergerilya dengan pemuda-pemuda Melayu melawan Inggris, dan dalam
bingkisan itu ada sebuah gambar dan cincin kawannya, juga seorang anak
Indonesia, tetapi telah tewas dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Inggris.
Apakah saya suka menyampaikan atau meneruskan kepada ibu kawannya yang telah
tewas itu? Dan diberikan alamat ibu anak yang tewas itu di Sumatera. Pada
permulaannya Inggris main keras terhadap orang komunis dan kaum nasionalis
Malaya yang mereka anggap radikal, dan banyak pemimpin Malayan Nationalist
Party umpamanya yang ditangkapi, atau melarikan diri mereka. Di antara mereka
ada yang ikut lari ke hutan-hutan dan mengangkat sejata melawan Inggris. Ada
pula anak-anak Indonesia yang ikut, karena macam-macam soal. Ada yang karena
merasa perjuangan bangsa Melayu adalah perjuangan Indonesia juga, ada yang karena
hubungan pribadi, dan sebagainya.
Surat
itu saya lipat baik-baik, dan bungkusannya saya masukkan kembali ke dalam saku
saya, dan entah karena apa, ketika hendak menyimpan surat itu kembali, saya
sodorkan suratnya kepada Dr. Bannerjee dan berkata:
“Cobalah
baca Dr. Bannerjee!”
Dr.
Bannerjee membaca surat itu, dan tiba-tiba air mukanya berubah. Kulitnya yang
hitam kelihatan sebagai kelabu, matanya agak membelalak terkejut, napasnya
seakan sesak. Dengan susah payah dikuasainya dirinya, dan kemudian diminumnya
wiskinya habis-habis, dan jarinya gemetar meletakkan surat itu kembali ke meja.
Aku jadi cemas.
“Sakitkah
engkau dokter?” tanyaku.
Dia
menghapus mukanya yang basah dengan keringat dingin dengan sehelai sapu tangan
yang besar dan berkata per lahan-lahan, suaranya serak: “Surat itu
mengejutkanku. Mengingatkan aku pada sesuatu yang lama aku coba lupakan. Saya
akan berceritera padamu. Telah terlalu lama benar saya pendam rahasia ini
sendiri saja. Dengarlah ceritaku ini hingga selesai. Kemudian terserahlah
padamu sendiri. Surat ini mengingatkan saya pada suatu hari dalam permulaan
tahun 1946, ketika revolusi di Indonesia sedang memuncaknya, dan banyak
anak-anak muda Indonesia yang datang kemari mencari senjata, minta bantuan dan
sebagainya. Singapura ketika itu masih di bawah peraturan militer yang amat
keras. Orang preman dilarang menyimpan senjata api atau peluru, dan dapat
dihukum mati jika melanggar peraturan itu. Pada suatu hari datang seorang
Melayu ke rumahku, memanggil aku ke rumahnya, karena di rumahnya ada seorang
yang sakit keras, dan memerlukan pertolongan dokter. Dia datang siang hari
kurang lebih pukul 12. Segera aku siapkan tasku, dan kami berangkat ke rumahnya
yang terletak di perkampungan orang Melayu. Aku terus dibawanya ke kamar di
belakang rumah. Di tempat tidur kelihatan terbaring seorang muda. Umurnya masih
muda benar. Kutaksir kurang lebih 24 tahun. Mukanya pucat benar, yang kelihatan
menonjol ke luar dari kain selimut tipis. Raut mukanya yang halus dan manis.
Segera aku bukakan selimutnya, dan alangkah terkejutnya aku melihat dadanya
telah penuh dengan darah merah yang mengental. Aku memandang pada orang Melayu
yang memanggil aku, dan sedang aku memeriksa lukanya, maka orang Melayu itu
berceritera, bahwa anak muda itu datang dari Indonesia mencari senjata ke
Singapura. Dan dia dapat celaka ketika memain-mainkan peluru senapan mesin
berat yang dipukul-pukulkannya ke meja, dan tiba-tiba meledak dan melukai
dirinya sendiri. Di bawah tempat tidur tempat anak muda yang malang itu
terbaring telah ada tiga peti senjata api dan peluru, yang menurut anak muda
itu sebelum terjadi kecelakaan pada dirinya, akan diangkut ke Sumatera dan
hanya menunggu kapal saja.
Segera
aku tahu, bahwa lukanya berbahaya benar. Dan dia telah kehilangan darah terlalu
banyak. Dan peluru di dalam harus dikeluarkan dengan operasi. Keadaannya amar
berbahaya benar. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit. Tranfusi darah, dan
operasi. Segera aku berkemas, dan berkata pada orang Melayu itu:
‘Dia
harus ke rumah sakit sekarang juga. Itupun belum tentu dia akan dapat
tertolong. Seharusnya tidak usah memanggil saya tadi, tetapi segera dibawa ke
rumah sakit.’
Orang
Melayu itu terkejut bukan kepalang, dan mukanya penuh ketakutan. ‘Tetapi jika
dibawa ke rumah sakit,’ katanya, ‘maka lukanya yang kena peluru itu harus
dilaporkan oleh rumah sakit kepada polisi. Polisi akan melakukan pemeriksaan.
Rumah ini akan digeledah. Kami semua akan ditangkap. Senjata ini akan dirampas.
Tuan dokter obati dia di sini. Jangan dibawa ke rumah sakit’.”
“Waktu
itu,” kata Dr. Bannerjee meneruskan ceriteranya, “aku kehilangan akal, tidak
tahu apa yang harus kuperbuat. Dan aku merasa amat tidak adil dia meletakkan
jiwa anak muda itu ke dalam tanganku.”
Suara
Dr. Bannerjee serak, seakan dia merasakan kembali saat-saat yang menggoncangkan
hidupnya itu.
“Tidak
harus aku campur dalam urusan mereka,” kata Dr. Bannerjee kembali. “Aku sebagai
dokter berkewajiban menolong orang yang sakit. Dan menurut pengetahuanku
sebagai dokter anak muda itu harus dibawa ke rumah sakit dengan segera, jika
jiwanya hendak ditolong. Sebaliknya perkataan orang Melayu itu membingungkan
hatiku. Dalam pikiranku tergores apa yang akan terjadi, jika luka anak muda itu
dilaporkan kepada polisi, bagaimana senjata itu akan disita, keluarga di rumah
itu akan ditangkap, dan mungkin sekali seluruh organisasi pembelian senjata
Indonesia itu akan hancur. Bolehkah aku mengorbankan jiwa anak muda itu?
Mengorbankan jiwanya untuk menjaga supaya organisasi pembelian senjata orang
Indonesia dapat selamat? Siapa aku untuk dapat mengambil putusan yang demikian?
Adakah hakku? Sebagai manusia? Sebagai dokter? Sebagai pencinta perjuangan
kemerdekaan manusia? Dapatkah aku menganggap anak muda itu tewas dalam
melakukan tugasnya sebagai seorang serdadu? Dapatkah jiwaku akan tenteram, jika
aku tidak paksa membawanya ke rumah sakit?
Aku
masih bimbang, ketika tiba-tiba pintu dibukakan orang, dan dua orang muda masuk
ke kamar dengan tergopoh-gopoh, dan mendekati tempat tidur, dan tidak dapat
berbuat apa-apa melihat anak muda yang pingsan terbaring di tempat tidur, dan
seorang berkata padaku mendesak:
‘Ayo
dokter, tolonglah dia.’
Aku
terkejut, tetapi segera aku membuka tas kembali, dan mengeluarkan perban, dan
sedang aku membalut lukanya, maka kedua orang muda itu mengeluarkan peti-peti
senjata dari bawah tempat tidur dan mengangkutnya ke luar kamar.
Mereka
pergi dengan tiada berkata apa-apa lagi, tetapi setelah aku selesai membalut
lukanya, tahulah aku, bahwa jiwa anak muda itu tidak akan tertolong lagi,
biarpun dia dibawa juga ke rumah sakit. Seperempat jam kemudian dia meninggal,
dan sejak itu, amat kerap benar timbul dakwaan dalam jiwaku sendiri, bahwa aku
telah bersalah, dan akulah yang bertanggung jawab atas kematian anak muda itu.
Dan apakah matinya itu sungguh-sungguh berguna untuk bangsanya?”
Dr.
Bannerjee menghapus mukanya dengan sapu tangannya, dan dia menatap mukaku. Di
matanya ada satu sinar yang mencoba sekuat-kuatnya menajuk lubuk hatiku, dan
sesaat aku merasa, seakan waktu berhenti mengalir, musik dansa menjauh
menghilang, dan yang ada hanya angkasa kelam dengan ribuan bintang yang
berkelip-kelip, dan ini seorang manusia –Dr. Bennerjee – yang bertahun-tahun
menderita sendirian dalam kesepian jiwanya, dan sekarang jiwa telanjang
dibukakannya demikian.
Pada
saat serupa itu, ketika seorang manusia menelanjangi jiwanya dengan
luka-lukanya yang masih ngilu itu, maka terasa benar serba kekuranganku untuk
mencari kata-kata yang dapat dan patut diucapkan. Dan apa yang dapat aku
katakan? Tiada berubah perasaan persahabatanku terhadap dirinya setelah
mendengar ceriteranya yang amat hebat itu, dank arena itu aku angkat gelasku
padanya, dan sambil melihat ke tempat dansa, aku berkata:
“Dokter,
itu Stella sungguh seorang perempuan yang menggairahkan hati!”
Dan
aku tahu Dr. Bannerjee mengerti rasa hatiku, karena ketika dia meneguk
wiskinya, terasa kudengar dia berkata – terima kasih!
Teks cerpen karya Mochtar Lubis diubah menjadi 5 karya teks puisi.
Turis
Karya Amartya
Salma
Mereka turun dari kapal
Dengan pakaian penuh warna yang menyilaukan
mata
Bercorak penuh kembang yang cocok dengan hawa
panas
Orang-orang yang senang dan berbahagia
Mereka lewat satu negeri
Berpuluh negeri lain
Datang dan pergi
Membawa perasaan kecewa atau kagum
Kemudian pergi terus
Acap kali membawa kenang-kenangan yang indah
dari pengalaman mereka
Beda
Wiski dengan Perempuan
Karya Amartya
Salma
Saat kau mabuk wiski
Tubuhmu bisa rusak
Mungkin jiwamu ikut rusak
Akan tetapi
Saat kau mabuk perempuan
Bukan saja tubuhmu rusak
Jiwamu rusak
Rohmu bisa ikut hilang
Jadi perempuan itu lebih berbahaya dari wiski
Pemuda
Itu
Karya Amartya
Salma
Ramli namanya
Anak Indonesia
katanya
Seorang pemuda
yang datang
Memberiku
bingkisan
Dan surat tuk
disampaikan di Indonesia
Sambil tergesa
menjabat tanganku
Berucap banyak
terima kasih
Kemudian
menghilang saja
Itu si Ramli
Surat
dalam Bingkisan
Karya Amartya
Salma
Berpura-pura ku tak acuh pada surat itu
Walau sudah menggebu ingin membaca
Sampai akhirnya klimaks hasrat hatiku
Kuabaikan sopan santun tuk membacanya
Surat dalam bingkisan itu pendek saja
Dari seorang yang tidak aku kenal
Tidak pernah pula kudengar namanya
Ah, pemuda Indonesia rupanya
Pergi jauh dari rumahnya
Untuk membantu gerilyawan Melayu
Melawan para biadab-biadab kolonial
Salah satu temannya kini telah berbaring
Menjadi salah satu tumbal ketidakadilan
Yang tersisa hanya sebuah cincin
Sebuah pengikat janji sucinya dengan orang di
seberang sana
Hanya sebuah permintaan penyampaian
Yang entah dapat kukabulkan atau tidak
Ceriteranya
Karya Amartya
Salma
Dalam permulaan
tahun 1946
Ketika revolusi Indonesia
memuncak
Takdir membawaku
menemuinya
Dikeadaan
mirisnya
Mengharuskanku
untuk memilih
Nasibnya ada di
tanganku
Yang kuanggap
sama sekali tidak adil
Aku bukan Tuhan
Aku tidak bisa
memutuskan
Aku kehilangan
akal
Saat tangan ini
bergerak
Kulakukan apa
yang kubisa
Justru yang tidak
diinginkanlah yang terjadi
Amat kerap benar
timbul dakwaan dalam jiwaku sendiri
Bahwa aku telah
bersalah
BERTEPUK SEBELAH TANGAN
Karangan N.H. Dini
Suara
sunyi malam mulai datang suara angin mengalun berhembus, lampu seperti semakin
temaram walau sebenarnya tidak meredup. Hanya saja Nina sudah merasa sangat
terkantuk, kelopak matanya ingin mengatup, dan matanya tak kuasa menahan beban
kelelahannya. Terkadang kantuk itu menguat membuatnya hanyut sebentar namun
tidak lama ia tersadar dan meneruskan kegiatannya. Sudah tiga jam dia
mengerjakan tugas rumahnya, tugas Fisika. Mata pelajaran paling tajam dari pada
matematika, dengan rumus-rumus rumit berselang-seling. Ditambah dengan guru
pengajarnya yang galak dan tegas pada setiap murid yang tidak mengerjakan
tugasnya, ia akan memberikan hukuman seperti dikeluarkan selama pelajaran atau
mengerjakan soal di papan tulis sampai bisa dan dilarang melihat rumus.
Pelajaran
SMA paling menyeramkan pikirnya dalam hati, Nina lalu membalikkan referensi
buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi siang. Sebenarnya ia jarang meminjam
buku disana hanya saja ada sebuah alasan. Seseorang yang ia suka, Hafid
terlihat olehnya memasuki perpustakaan saat ia dan Putri baru saja membeli
jajanan di kantin. Terpikir olehnya bahwa ia ingin menyapa walau hanya sebentar
mungkin bisa mengobati hatinya yang rindu melihat wajahnya, ia mengajak putri
memasuki perpustakaan dan menulis daftar hadir pengunjung. Putri berjalan
mendahuluinya sedangkan ia mencari dimana Hafid berada, ia menyusuri jajaran
buku, tangannya menyentuh deretan buku tapi matanya berkeliaran mencari Hafid.
Nina bahkan melupakan sahabatnya yang sedang sibuk duduk di bangku
memilih-milih buku untuk dibacanya.
Akhirnya
terlihat olehnya seseorang, ia hapal betul postur tubuhnya, tercium olehnya
buku-buku usang yang sudah berwarna kuning dimakan waktu. Dilihat olehnya Hafid
sedang berbungkuk mencari buku-buku dalam sebuah kardus-kardus yang tersusun,
sepertinya buku-buku dalam kardus itu sudah akan dibuang karena sudah uzur.
Terdengar olehnya suara kardus yang tersetuh lengan Hafid dan suara buku yang
disimpannya kembali kedalam.
“Sedang
apa kak?” Nina yang tepat di belakangnya siap memperlihatkan senyum
termanisnya.
“Oh..
Nina, ini lagi nyari buku. Kata Bapak perpus buku yang kakak cari ada disini.
Di tumpukan buku usang.” Hafid berdiri dan memegang buku di tangannya, buku itu
terlihat usang dengan robekkan dan coretan tak berarti di covernya.
“Sedang
cari buku?” Hafid bertanya membuat Nina terkejut harus menjawab apa.
“e..e..
ia lagi nyari novel Kak,”
“suka
novel ya? Pernah baca karya NH.Dini?”
Nina
menggeleng.
“Coba
baca deh, novelnya sederhana tapi menurut Kakak berkesan” Nina mengangguk, lalu
Hafid pergi setelah sebelumnya meminta izin pada Nina.
Walau
hanya sekejap pertemuan tadi siang dengan Hafid, ia sudah sangat senang. Entah
perasaan apa itu? ia sedang jatuh cinta. Cinta yang entah keberapa kalinya ia
sekarang sedang menjomblo, namun kali ini berbeda Nina menutup diri dan
memendamnya. Tidak ada yang tahu bahwa ia mencintai seorang ketua OSIS, bukan
karena ia malu. Namun ia hanya ingin membuat Hafid terkesan dan akhirnya jatuh
cinta padanya. Cintanya kali ini berbeda, sungguh hanya ia yang tahu. Namun
cinta ini memiliki kesamaan dengan cinta sebelumnya, ia tidak bisa tidur kerena
memikirkannya, ia selalu melamun memikirkannya dan bahkan akhir-akhir ini ia
menjadi rajin akibat motif cintanya kepada Hafid, itu pengaruh jatuh cinta yang
bagus. Terang saja Nina merasa sangat bergairah saat belajar akhir-akhir ini,
ia merasa malu jika ia mendapatkan nilai jelek. Hatinya selalu mengira-ngira
bagaimana kalau Hafid tau bahwa dirinya payah dalam hal prestasi di kelas, saat
itulah timbul semangat dalam dirinya.
Hafid
adalah seorang laki-laki yang sopan dan terlihat cerdas apalagi saat ia
berbicara, tidak salah dia terpilih menjadi ketua OSIS. Ia seorang lelaki yang
mudah bergaul dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Perawakannya tinggi dan
kurus, dengan senyum yang selalu mewarnai wajahnya.
Jam
dinding tua di ruangan tengah berbunyi dua belas kali, namun matanya kini sudah
bisa beradaptasi dengan suasana ditambah secangkir moccacino yang ia buat
sendiri. Namun ia sadar ia harus tidur. Nina mampu terjaga setelah dalam
hatinya teringat Hafid, ‘mungkin ia juga sedang belajar’ pikirnya. Tugas Fisika
itu sudah hampir selesai, ia sibuk menghapus, menulis, mengotret dengan banyak
sisa-sisa kotoran penghapus yang sudah menyebar di buku catatannya. Ia menulis
jawaban terakhirnya, merapihkan peralatan tulis dan buku catatannya lalu
memasukannya ke tas. Nina mengambil cangkir Moccacino-nya dan meneguk minuman
Mocca terakhirnya, ia beranjak menuju kamar mandi dan menggosok giginya. Lalu
pergi ke tempat tidur mengistirahatkan diri sambil mengucap doa.
Pagi
terasa lain hari ini, entah apa yang akan terjadi. Sesuatu seperti mengganggu
hatinya namun apakah itu? ia bertanya-tanya dalam hati. Nina berusaha
menghilangkan perasaan itu dan cepat menyibukkan dirinya dengan berangkat ke
sekolah. Pagi itu cerah, matahari bahkan menerangi bumi sangat awal,
kehangatannya menemani angin pagi yang masih berhembus. Nina berjalan menyusuri
jalan gang, baru saja ia turun dari angkot hijau. Biasanya ia melewati gang untuk
sampai ke sekolah walau ada jalan lain yaitu jalan raya utama, kau tahu juga
alasannya karena Hafid. Ia selalu melewati gang ini. Beberapa kali Nina
beruntung bisa berjalan bersama atau bahkan hanya saling sapa, ada kepuasan
tersendiri dalam hatinya. Namun pagi ini berbeda, Hafid tidak tampak melewati
gang.
Sesampainya
di kelas ia duduk di depan, sahabat dan sekaligus teman sebangkunya sudah
terlihat dengan beberapa alat tulis dan catatan di mejanya. Suasana kelas sudah
tampak gaduh, Nina baru sadar karena hari ini ada tugas Fisika. Biasanya ia
juga sama dengan teman-teman yang lain, mondar-mandir sebelum jam masuk mencari
teman yang sudah menyelesaikan tugas lalu menyontek jawaban teman yang baik dan
malang. Namun kali ini ia tidak melakukannya, ia sudah berusaha keras sampai
tengah malam untuk mengerjakannya.
“Tugas
Fisikanya sudah selesai?” Putri bertanya dengan wajah sayu seperti kelelahan.
“Sudah,
aku berusaha keras tadi malam” Nina menunjukkan senyum bangganya.
“Aku
sudah berusaha mengerjakan, tapi tidak ketemu hasilnya” Putri menghapus catatan
yang ditulisnya mungkin jawabannya belum tepat. Nina termenung tidak biasanya
Putri kali ini kesulitan mengerjakan tugas pikirnya.
“Sini
aku bantu” Nina mendekatkan diri ke arah putri duduk, agar bisa menjangkau catatan
dan alat-alat tulis. Sampai bel masuk berbunyi, suasana menjadi sunyi.
Murid-murid terlihat rapi dan sikap taat yang dibuat-buat karena terihat dari
jendela Ibu Mira pengajar Fisika berjalan menuju kelas.
Dentam
bel berbunyi, menyuarakan sebuah nada bel yang khas tanda waktu istirahat para
murid. Siswa-siswi disibukkan dengan kesibukkan masing-masing, makan,
mengobrol, membaca, mengerjakan tugas dan lain-lain. Nina dan putri berjalan
menuju kantin, mereka berencana membeli beberapa gorengan Bu Entin yang juga
istri penjaga sekolah. Itulah kebiasaan mereka selalu bersama-sama kemanapun,
seperti tidak pernah terpisahkan. Sejak kelas satu mereka selalu bersama,
bahkan sampai sekarang mereka kelas dua selalu saja duduk sebangku. Nina sudah
menganggap Putri seperti saudaranya sendiri, dimana ada Nina pasti disana ada
Putri, jika tidak mungkin mereka sedang bertengkar itulah yang dikatakan
teman-teman mereka. Putri lebih dari sahabat baginya, selalu menemani disaat
suka dan duka, bersedia mendengarkan cerita-ceritanya tentang keluarga ataupun
tentang pacar-pacarnya. Putri adalah perempuan yang menarik menurut Nina, ia
tertutup dalam mesalah cinta ia bahkan tidak percaya dengan pengakuan Putri
bahwa ia belum memiliki pacar sampai sekarang. Wajahnya cukup cantik dengan
tubuh mungil, rambut panjangnya terlihat sering di ikatnya katanya agar tidak
menganggu saat sedang belajar. Putri orangnya susah untuk ditebak, ia pendiam
tapi bersikap tegas dalam mengambil keputusan, Putri juga terlihat sering
membela dirinya dan membantunya dalam mengerjakan tugas yang dianggapnya sulit.
Mereka
duduk di depan Perpustakaan sambil memakan jajanan gorengan, Nina dan Putri
saling berpandangan dan mengobrol kadang tiba-tiba mereka tertawa bersama
mengingat pelajaran fisika tadi, ada kejadian menarik. Bu Mira tiba-tiba
mengatakan akan mengadakan ulangan, tadi. Sontak siswa-siswi protes dan tidak
setuju dengan keputusan Guru Fisika itu. Namun bukan Bu Mira namanya kalau
tidak menuai kontroversinya dalam hal mengajar yang terbilang ekstrem, Ibu
bilang ‘Ibu sudah pernah berkata pada kalian, untuk belajar bukan karena hanya
ada perkerjaan rumah saja, tapi setiap hari karena saya akan selalu mengadakan
ulangan secara mendadak’. Dengan terpaksa siswa-siswi yang terlihat pasrah
mengeluarkan kertas selembar yang di perintahkan Bu berparas cantik namun
terlihat sangar jika marah, sementara Bu Mira sudah menulis soal-soalnya di
papan tulis. Tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu, ternyata seorang guru piket
yang menyampaikan ada rapat di ruangan guru, semua guru harus hadir saat itu
juga. Bu Mira berhenti menulis soal di papan tulis, ia lansung mengambil alih
pembicaraan dan berkata bahwa ulangan diundur disaat siswa-siswi sudah
berteriak riuh karena lega untuk sementara mereka selamat. Bu Mira lalu pergi
membawa tas dan peralatannya yang menandakan bahwa rapat akan menghabiskan
semua jam pelajarannya di kelas 8C.
Di
tengah obrolan yang masih mengarah pada pelajaran Fisika, Hafid dan seorang
temannya melintas di hadapan Nina. Hafid dan temannya melihat dan menyapa ke
arah Nina, Nina langsung semangat menyapa Ketua OSIS pujaannya. Sementara Putri
terlihat malu-malu saat Hafid lewat, ia menunjukkan sikap tidak seperti biasa.
Nina bertanya-tanya melihat sikap sahabatnya itu, ‘apa mungkin Putri juga
menyimpan rasa pada Hafid?’ namun pikiran itu ditangkisnya, sahabatnya itu
terlalu pemalu untuk suka pada seseorang pikirnya. Nina juga yakin Putri
mengerti bahwa ia menyukai Hafid walau Nina tidak pernah menceritakan
perasaannya itu. Baginya mungkin perilakunya pada Hafid mungkin cukup untuk
membuat Putri paham kalau ia menyimpan rasa padanya.
Bel
tanda masuk berbunyi, Nina dan Putri berjalan menuju kelas mereka. Kelas sudah
penuh sesak, teman-teman mereka riuh bercampur ribut seperti kebiasaan
istirahat. Tiba-tiba Ketua kelas Nina berdiri di depan kelas, ia meninggikan
suaranya bersiap mengeluarkan teriakannya untuk menghentikan kebisingan kelas.
“Mohon
perhatiannya..” Kata Johar dengan nada bijaksana yang sepertinya ia buat
sebulat mungkin. Seisi kelas langsung menghentikan kesibukkan mereka, suasana
kelas menjadi hening. Mereka sudah siap menerima informasi yang akan
disampaikan Sang ketua kelas.
“Hari
ini, kalian di bubarkan. Karena ada kepentingan rapat para guru, tapi kalian
harus tertib dan jangan ribut” Johar lalu melangkah maju menuju tasnya,
sepertinya ia akan segera pulang. Teman-teman yang lain juga begitu, mereka
senang karena dipulangkan lebih awal. Sebagian siswa sudah meninggalkan kelas
sementara yang lain masih dalam kesibukkannya, mereka biasa berdiam dulu dalam
kelas merapihkan pakaian seragam mereka atau berdadan terlebih dahulu sebelum
pulang. Nina mengambil cermin dari tasnya, ia memperhatikan wajahnya barang
kali ada kotoran menempel pada wajahnya. Sementara Putri hanya berdiam diri
memperhatikan Nina dan menunggunya selesai sebelum akhirnya mereka pulang
menuju gerbang sekolah.
Putri
menggeser kursinya lebih dekat dengan posisi Nina yang masih asyik bercermin.
“Nin
aku mau cerita, boleh?”
“Boleh”
Nina mengangguk, lalu memberikan senyum ke arah putri.
“Tapi
ini rahasia” Putri melirik-lirikan matanya ke arah teman-temannya yang masih
cukup banyak dalam kelas namun tampak tidak terlalu memperhatikan mereka
berdua. Nina lalu mengangguk meyakinkan sahabatnya agar mempercayainya
menyimpan rahasia apapun padanya. Nina menduga-duga, kira-kira rahasia apakah
yang akan Putri ceritakan padanya, baru kali ini Putri bermain
rahasia-rahasiaan biasanya ia yang selalu seperti itu.
“ini
tentang Hafid” jantung Nina terasa berhenti saat mendengar nama itu terucap
dari mulut sahabatnya yang kalem itu. Nina menghentikan kegiatannya bercermin,
kini ia tertarik dengan ucapan Putri.
“Dia
nembak aku tadi malam” Nina terlihat kaget mendengarnya, terucap di bibirnya
kekagetan itu seakan tidak percaya perkataan sahabatnya. Putri kini terlihat
menunduk mungkin malu memperlihatkan wajahnya yang merah pada Nina. Ekspresi
Nina jadi tidak karuan, ia berusaha mengatur napasnya, hatinya seperti sakit tertekan
entah oleh apa. Ada beban di hatinya yang begitu perih terasa. Apa yang terucap
dari mulut Putri sulit untuk ia cerna dalam pikirannya. ‘Hafid nembak Putri’
hatinya terasa amat perih mendalam, matanya mulai berkaca-kaca tapi ia berusaha
agar Putri tidak memperhatikannya. Ia tahu Putri ingin mengabarkan kabar
gembira ini padanya, Nina sudah pernah mendesaknya agar ia mempunyai pacar. Dan
kini ada seseorang yang mengatakan cinta padanya, seharusnya sebagai sahabat ia
harus ikut senang merasakan kebahagian sahabatnya. Walaupun orang yang
dicintainya yang menembak sahabatnya, walau kenyataan ini memang perih ia harus
siapa menerimanya. Ia mencoba menabahkan hatinya terlihat Putri masih
menyembunyikan wajahnya menunduk lalu tersenyum-senyum tanda bahagia di
hatinya.
“Lalu
bagaimana jawaban kamu?” Nina akhirnya bisa berucap walau ada sesuatu yang
berat meganjal dadanya.
“Aku
ingin minta pendapatmu” Putri lalu memegang bahu Nina, Nina terlihat agak
gemetar walau ia dengan susah payah berusaha tabah.
“Me..
menurutku ia baik, Ketua OSIS lagi, terima saja Put,” Nada bicara Nina mulai
gemetar ia menahan air mata yang mulai berembun menyelimuti matanya, napasnya
terasa mulai tidak beraturan, mengapa begitu sakit pikirnya.
“Baiklah,
aku akan bilang malam ini jawabannya” Putri tersenyum terlihat sangat bahagia,
baru kali ini Nina melihatnya begitu sangat bahagia, ia sadar bahwa sahabatnya
itu sedang jatuh cinta.
“Put,
aku duluan ya, soalnya ada perlu disuruh jemput adik” Nina beranjak dan
mengambil tas selendangnya dengan tangan yang masih gemetar, rasa sakit di
hatinya tidak dapat terbendung lagi.
Matanya sudah berkaca-kaca dan seperti
tidak dapat terbendung lagi oleh kelopak matanya, mana mungkin di tengah
kebahagian sahabatnya ia berkata jujur tentang hatinya. Rasanya juga percuma
untuk mengatakan itu, buktinya Hafid sebenaranya mencintai sahabatnya, Putri.
Wajah Putri masi berseri-seri karena senang, ia mengangguk mengizinkan Nina
untuk pulang duluan.
“Aku
akan cerita besok ya Nin” Putri berteriak saat Nina akan segera melewati pintu,
ia menoleh sebentar dan memberikan anggukan kepada sahabatnya itu.
Nina
bingung harus kemana ia pergi, tidak mungkin baginya menangis sepanjang
perjalanan pulang menggunakan angkot. Ia berjalan menuju toilet menggantung tas
selendangnya dan mengambil sapu tangannya, ia menghapus air matanya walau
terasa sia-sia, air mata yang sempat tertahan tadi mengalir deras, rasa perih
itu makin nyata. Ia rasa lututnya lemas, beban di dadanya semakin berat saja,
sebegitu besarnyakah rasa cintanya pada Hafid sehingga seperti ini rasanya.
Nina sadar bahwa cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Ia berusaha menghibur
dirinya sendiri, bahwa dirinya patut senang karena kebahagian sahabatanya. Ia
juga harus yakin bahwa Putri adalah yang terbaik bagi Hafid, ia cantik, baik
dan pintar sementara dirinya terkenal di kelas sebagai anak yang sering
mengganti-ganti pacarnya terlebih selama ini Nina belum menunjukkan prestasinya
di kelas. Sedangkan Putri adalah seorang siswi pandai yang tidak pernah absen
masuk lima besar di kelas.
Nina menyadari kesalahan-kesalahannya ia terlalu
banyak berbuat sewenang-wenang pada adik kelas, dan merasa paling senior. Ia
merasa beruntung memiliki sahabat seperti Putri yang bisa membatasi
pergaulannya walau terkadang ia sering mengabaikannya untuk berkumpul dengan
anak-anak yang terkenal kerena kecantikannya dan exisnya di sekolah. ‘Putri
adalah seorang yang terbaik untuk Hafid, seharusnya aku bahagia’ pikirnya. Ia
menghapus air matanya yang mengering dengan tisu basah dari tasnya. Hatinya
sudah membaik sekarang. Rasa perih itu mulai berkurang, hatinya mulai bisa
menerima. Ia membasahi kedua matanya yang terlihat bengkak karena menangis,
lalu mengusapnya dengan saputangan, ia lalu keluar dari toilet. Sebelumnya ia
melihat-lihat barang kali ada orang yang akan melihatnya bila ia keluar. Tapi
ternyata seisi sekolah sudah sepi, yang terdengar hanya suara kepala sekolah
yang sedang memimpin rapat di ruang guru, Nina keluar dengan mata yang terlihat
merah dan bengkak.
Ia
berjalan menyusuri kelas di lorong menuju Perpustakaan, ia teringat lagi oleh
Hafid lalu ia buang pikiran itu jauh-jauh. Ia masuk ke Perpustakaan untuk
mengembalikan buku referensi Fisika yang ia pinjam kemarin saat ada Hafid, dan
tentunnya sebelum kejadian ini.
Ia mengisi daftar pengunjung, Bapa
penjaga Perpus yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu memandangnya aneh karena
Nina terlihat berantakan dengan mata seperti kemasukan air, bengkak. Untung
Bapa Perpus tidak bertanya apa-apa, Nina lalu duduk di bangku Perpus. Ia memutuskan
mengistirahatkan dirinya sebentar sebelum pulang. Teringat olehnya bahwa Putri
akan bercerita tentang Hafid saat ia menjawab cintanya besok, ia harus siap dan
melupakan Hafid. Ia juga sadar bahwa ia harus mengubah sifatnya mulai sekarang,
ia bertekat untuk fokus belajar untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia
sadar bahwa selama ini banyak membuat orang tuanya sedih karena ia sering
membuat ulah di sekolah, bertengkar dengan adik kelas ataupun karena nilainya
yang kurang dari ketuntasan beberapa mata pelajaran. Di meja tempat ia duduk
terlihat sebuah buku novel yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya, ia lalu
mengambilnya, di cover novel tersebut tertulis, ‘Padang ilalang di belakang
rumah karya NH.Dini’.
Teks cerpen karya N.H. Dini diubah menjadi 5 karya teks puisi.
Tugas Rumah
Karya Muhammad Raafi
Malam itu
angin berhembus pelan
Sinar
lampu tidak juga meredup
Namun
wanita itu sudah terkantuk
Menahan
beban yang dia pikul
Tiga jam
melaksanakan kewajiban
Rumus
fisika yang memusingkan
Ditambah
guru yang mengajar
Sosok yang
galak juga tegas
Hanya ada
satu pikiran di benaknya
Yaitu
hukuman yang menunggunya
Memaksa
dia untuk tetap teguh
Mengerjakan
hal yang dibencinya
Malu Tapi Mau
Karya Muhammad Raafi
Langkah kaki saat menuju kantin
Terhenti untuk kagum sementara
Ada rasa yang menyangkut di hati
Saat mata ini tertuju pada dirinya
Ingin mulut ini menyapa
Karena rindu melihat wajahnya
Berbelok langkah kecil ini
Untuk memuaskan rasa di hati
Perpustakaan yang kumasuki
Hanya untuk basa basi saja
Melihat kekiri dan kekanan
Untuk melihat wajah dirinya
Sekejap Saja
Karya Muhammad Raafi
Kutemukan
dirimu membungkuk
Dibalik
rak buku yang usang itu
Kulontarkan
pertanyaan sederhana
Kau jawab
dengan penuh kehangatan
Percakapan
yang singkat itu
Adalah hal
yang berkesan
Kuharap
waktu bisa dihentikan
Namun kau
pergi tanpa pamit
Pertemuan
ini sangat berkesan
Entah apa
yang kau pikirkan
Ucapanmu
tadi sangatlah indah
Apakah ini
yang namanya cinta ?
Andaikan Saja
Karya Muhammad Raafi
Andaikan dirimu tahu
Aku semangat belajar
Malu akan nilai jelek
Hanya karena dirimu
Dirimu yang sopan perilakunya
Cerdas ketika sedang berbicara
Dan tidak memilih saat berteman
Juga senyum yang ada di wajahmu
Masih teringat dalam benak ini
Kulihat banyak hal indah darimu
Baik perawakanmu ketua tampan
Ataupun perilakumu yang
budiman
Selamat Malam
Karya Muhammad Raafi
Dua belas
kali kudenagar suara itu
Pertanda
waktu yang semakin malam
Saat yang
tepat untuk beristirahat
Setelah
menghabiskan moccacino ini
Kutulis
jawaban terakhirku
Sembari merapihkan
alat tulis
Menyusun
buku catatan ini
Lalu
kumasukkan kedalam tas
Karenamu
aku masih terjaga
Semangat
kecil yang muncul
Agar bisa
diperhatikan olehmu
Akan
menjadi mimpi yang indah
KETIKA MAS GAGAH PERGI
Karangan Helvi Tiana Rosa
Mas
Gagah berubah!
Ya,
sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku
satu-satunya itu benar-benar berubah !
Mas
Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia
seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja… ganteng! Mas
Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat
untuk anak-anak SMA.
Sejak
kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu
mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia
menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang
sekolah dan mengajariku mengaji.
Pendek
kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak
untukku.Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit
waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film
atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang
humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku
tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar
teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan
dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan, Ancol.
Tak ada
yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek,
orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !
“Kakak
kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih ?”
“Git,
gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering
membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho ! Gila, berabe khan ?”
“Gimana
ya Git, agar Mas Gagah suka padaku ?”
Dan
masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma
mesam-mesem. Bangga.
Pernah
kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?
“Mas
belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…,
banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He…he…he..” kata Mas Gagah
pura-pura serius.
Mas
Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya
rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak
pernah meninggalkan sholat !
Itulah
Mas Gagah!
Tetapi
seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia
berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku
kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…
–=oOo=–
“Mas
Gagah ! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah
keras-keras.
Tak ada
jawaban. Padahal kata mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di
depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca.
Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!
“Assalaamu’alaikuuum!”
seruku.
Pintu
kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.
“Wa’alaikumussalam
warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?”
tanyanya.
“Matiin
kasetnya !” kataku sewot.
“Lho
emang kenapa ?”
“Gita
kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah ! Memangnya kita orang Arab… ,
masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.
“Ini
nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita !”
“Bodo
!”
“Lho,
kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas
sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin
waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek…, mama bingung. Jadinya ya, di
pasang di kamar.”
“Tapi
kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…, eh
tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”
“Mas
kan pasang kasetnya pelan-pelan…”
“Pokoknya
kedengaran!”
“Ya,
wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa
Inggris. Bagus, lho !”
“Ndak,
pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngloyor pergi sambil membanting pintu
kamar Mas Gagah.
Heran.
Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu.
Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Bon Jovi, Dewa, Jamrood
atau Giginya?
“Wah,
ini nggak seperti itu, Gita ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum
tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid
Islami. Gita mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !” begitu
kata Mas Gagah.
Oalaa !
Teks cerpen karya Helvi Tiana Rosa diubah menjadi 5 karya teks puisi.
Pertanyaan
Karya Muhammad Raafi
Ada apa
gerangan yang terjadi ?
Mengapa
tidak seperti dulu ?
Hal apa
yang membuatnya begini ?
Semua
masih menjadi misteri
Rasa
penasaran ini terus mengusik
Sebelumnya
kau tak seperti ini
Dirimu
adalah lelaki yang sempurna
Mata ini
tidak mungkin dibohongi
Lelaki
yang sangat baik
Dan
berpikiran cerdas
Juga
selalu jadi periang
Itulah
dirimu yang kukenal
Panutan
Hidupku
Karya Muhammad Raafi
Semeter ketujuh yang dia jalani
Di kampus almamater kuning
Tidak berpangku kepada orang tua
Untuk membayar uang kulaihnya
Sejak kecil dia memang terbuka
Ia selalu bisa membuatku bahagia
Mengajak pergi kemana yang kumau
Menolongku disaat sedih dan sendiri
Selalu menghibur diriku saat merana
Mengiringi setiap langkah kecil ini
Mengajar mengaji sepulang aku sekolah
Dia memang lelaki yang kuidamkan
Kenangan Masa Itu
Karya Muhammad Raafi
Kadang
teringat diri ini
Akan hal
baik yang kau lakukan
Kejadian
menyenangkan
Yang
sangat berarti untukku
Hubungan
yang semakin dekat
Ketika
kita beranjak dewasa
Bersama
menjalani hari-hari
Namun
waktu yang terus begerak
Berharap
untuk bisa kembali
Disaat
dirimu masih seperti dulu
Menjadi
orang yang kukenal
Tidak
berubah dan apa adanya
Bahagiaku
Karya Muhammad Raafi
Emua kenangan manis saat itu
Waktu dimana kau mengagumkan
Tidak hanya untukku saja
Tapi juga orang sekelilingmu
Lelucon yang sering kau lontarkan
Membuat kita larut dalam tawa
Berjalan dan makan bersamamu
Saat menjeputku seusai teater
Tak ada yang tak menyukaimu
Semua ucapan dan perlakuanmu
Masih kuingat jelas sampai sekarang
Karena dirimu membuat orang bahagia
Karya Muhammad Raafi
Kemana
perginya kau sekarang ?
Apa yang
terjadi disana ?
Kenapa
malah seperti ini jadinya ?
Aliran apa
yang merasukimu ?
Pertanyaan
ini masih ada dibenakku
Seakan
mempertanyakan keadaan
Apakah ini
realita atau bukan ?
Sedang
bermimpikah diriku saat ini ?
Dulu kau
sangatlah menikmati hidup
Mencintai
musik yang sangat asik
Berkehidupan
yang sewajarnya saja
Tapi tetap
menjalankan kewajibanmu
Namun
sekarang kau digaris keras
Itu yang
kupikirkan saat melihatmu
Mendengarkan
musik berbau Islami
Yang
biasanya tak pernah terdengar
Aku ingin
bertemu dirimu yang dulu