Monday, 23 July 2018

Rekayasa Teks Cerpen Menjadi Puisi

LAKI-LAKI SEJATI
Karangan Putu Wijaya


Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?

Ibunya tersenyum.
Kenapa tidak?


Ibunya terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan.
Sepasang matanya yang dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena harus ditempuh sendiri.

Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.
Wajah gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani. Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering menyesatkan. Karena orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari anak-anaknya yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui, tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya.
Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.
Jangan malu, anakku. Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya, kalau kau sendiri tak penasaran untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya karena kamu tidak pernah mengalami sendiri, pengetahuanmu hanya menjadi potret asing yang kamu baca dari buku. Banyak orang tua menyembunyikannya, karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu berat dan mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima kebenaran walaupun itu tidak menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?
Sebab di dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang meluap dari berbagai kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah memenuhi harapan perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan keki.

Apakah itu salah?
Ibu tidak akan bicara tentang salah atau benar. Ibu hanya ingin kamu memisahkan antara perasaan dan pikiran. Antara harapan dan kenyataan.

Aku selalu memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata. Harapan menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati. Itu aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya bayang-bayang? Karena dengan bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot, sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima, meskipun itu bertentangan dengan harapan.

Jadi kamu masih ingat semua yang ibu katakan?

Berarti kamu sudah siap untuk melihat kenyataan?

Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.

Ibu memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan seluruh unsur yang berserakan di mana-mana, untuk membangun sebuah sosok yang jelas dan nyata.
Laki-laki yang sejati, anakku katanya kemudian, adalah…
 tetapi ia tak melanjutkan.

Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.

Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak sabar.

Bagus, Ibu hanya berusaha agar kamu benar-benar mendengar setiap kata yang akan ibu sampaikan. Jadi perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan memotong, karena laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya dengan satu kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut ibu sambil memandang ke depan, seakan-akan ia melihat laki-laki sejati itu sedang melangkah di udara menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki sejati adalah…

Laki-laki yang perkasa?!

Salah! Kan barusan Ibu bilang, jangan menyela! Laki-laki disebut laki-laki sejati, bukan hanya karena dia perkasa! Tembok beton juga perkasa, tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti juga kamu.

O ya?

Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara, beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, jago bercinta, pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain, punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal. Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati!

Kalau begitu apa dong?

Seorang laki-laki sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat, karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.

Perempuan muda itu tercengang.
Hanya itu?

Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!

Orang yang konsekuen?

Lebih dari itu!

Seorang yang bisa dipercaya?

Semuanya!

Perempuan muda itu terpesona.
Apa yang lebih dari yang satu kata dan perbuatan? Tulus dan semuanya? Ahhhhh! Perempuan muda itu memejamkan matanya, seakan-akan mencoba membayangkan seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok manusia dan kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya sampai tak sanggup melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar erangan kecil, kagum, memuja dan rindu.
Ia mengalami orgasme batin.

Ahhhhhhh, gumannya terus seperti mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu, Ibu?

Ibu tidak menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah penasaran.
Di mana aku bisa berkenalan dengan dia?

Untuk apa?

Karena aku akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan malu-malu untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku, menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar dia menjadi teman hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi kalau aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi menantu Ibu, penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya, aku akan berjuang untuk memilikinya.

Dada perempuan muda itu turun naik.
Apa salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah selama berabad-abad kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai laki-laki itu?

Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang itu?

Karena kamu menanyakan sesuatu yang sudah tidak mungkin, sayang.

Apa? Tidak mungkin

Ya.
Kenapa?

Karena laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada lagi di atas dunia.

Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?

Sudah habis.

Ya Tuhan, habis? Kenapa?

Laki-laki sejati seperti itu semuanya sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.

Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Sudah amblas?

Ya. Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya. Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa berbuat apa saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu, tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas dan jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah tua dan tidak rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa menggebuki kaum perempuan yang pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi kalau kamu masih merindukan laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan mimpi yang tak berguna itu.

Gadis itu termenung.
Mukanya nampak sangat murung.
Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu aku patah hati.

Patah hati?

Ya. Aku putus asa.

Kenapa mesti putus asa?

Karena apa gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada laki-laki sejati?

Ibunya kembali mengusap kepala anak perempuan itu, lalu tersenyum.
Kamu terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja. Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar beramai-ramai di pagar, dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam perpustakaanmu meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak ngumpet!

Jangan lari!

Siapa yang lari?

Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar!

Keluar ke mana?

Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka.
Bergaul dengan masyarakat banyak.

Gadis itu termangu.
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih nyaman?

Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!

Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!

Tidak cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat hatimu terbuka, matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada kelebihan-kelebihan orang lain.

Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati.

Makanya keluar. Keluar sekarang juga!

Keluar?
Ya.
Perempuan muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia terpaksa meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar kamar.
Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis yang garang itu untuk menjadi bola api yang indah. Dalam bulatan yang hampir sempurna, merahnya menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit. Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi melayang-layang mengincer sasaran. Wajah perempuan muda itu tetap kosong.

Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.

Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!

Untuk apa?

Banyak laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja, sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!

Perempuan muda itu tecengang. Hampir saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu memotong. Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena cinta dapat mengubah segala-galanya.

Perempuan muda itu tercengang.
Dan lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati!


Teks cerpen karya Putu Wijaya diubah menjadi 5 karya teks puisi.



Yang Beranjak
Karya Amartya Salma


Waktu tak mau menunggu
Rasanya baru kemarin mengompol
Tiba-tiba kini sudah menjadi perempuan yang punya banyak pertanyaan

Sepasang mata yang dulu belekan
Sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam gelap
Sinarnya begitu tajam
Sekelilingnya jadi ikut memantulkan cahaya

Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri
Jalan yang sedang ia tempuh
Nampak masih berkabut


Sebuah Rahasia
Karya Amartya Salma


Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya,
kalau kau sendiri tak penasaran untuk membukanya

Sebuah rahasia dimulai dengan rasa ingin tahu,
meskipun sebenarnya kamu sudah tahu


Harapan
Karya Amartya Salma


Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di depan mata

Harapan menjadi ilusi
Ia hanya bayang-bayang dari hati

Tetapi, apa salahnya bayang-bayang?
Karena bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot

Berkat kegelapan,
kita bisa melihat bagian-bagian yang diterangi cahaya
Hal-hal nyata yang harus diterima
Meskipun itu bertentangan dengan harapan


Bukan Laki-Laki Sejati
Karya Amartya Salma


Laki-laki disebut laki-laki sejati,
bukan hanya karena dia perkasa

Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena tubuhnya tahan banting

Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang, berani dan rela berkorban

Seorang laki-laki meskipun dia seorang idola yang dikagumi, seorang pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru, bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi laki-laki sejati


Lelaki Sejati
Karya Amartya Salma


Seorang yang melihat yang pantas dilihat
Mendengar yang pantas didengar
Merasa yang pantas dirasa
Berpikir yang pantas dipikir
Membaca yang pantas dibaca
Berbuat yang pantas dibuat
Berkelakuan yang pantas dilakukan
Dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan

Hanya itu, sayang
Itulah lelaki sejati


CERITERA DARI SINGAPURA

Karangan Mochtar Lubis


Singapura malam hari.
                Hotel Adelphi dekat pinggir laut telah penuh sejak senja. Serombongan turis-turis Amerika yang turun ke darat dari kapal dengan baju mereka yang berwarna-warna menyilaukan mata, penuh kembang-kembang dan warna-warna yang menurut mereka rupanya cocok benar dipakai di hawa panas, telah memenuhi ruangan makan.
                Dr. Bannerjee sambil mengunyah bistiknya menunjuk dengan garpunya kepada rombongan turis Amerika itu, dan berkata:
                “Itulah orang-orang yang senang dan berbahagia. Mereka lewat satu negeri, dan berpuluh negeri lain, datang dan pergi membawa perasaan kecewa atau kagum, dan kemudian pergi terus, dan acap kali membawa kenang-kenangan yang indah-indah saja.” Dia menghela napas sedikit, dan menatap rombongan turis-turis Amerika yang riuh rendah bercakap-cakap dan bersenda gurau, dan sebentar seakan ada bayangan melintas menggelap di muka dokter tua yang baik itu, yang kemudian segera hilang kembali, dan Dr. Bannerjee berpaling padaku, dan tertawa: “Maafkan orang tua sebagai saya. Semakin tua, semakin banyak yang mengganggu pikiran,” katanya.
                Aku tak hendak mendesak dan mengganggu pikirannya, dan tertawa kembali padanya, dan berkata:
                “Anak muda lebih banyak gangguan pikirannya.:
                Kemudian dia menepuk meja, dan berkata:
                “Sekarang kita bicara perkara kita. Engkau! Berapa lama engkau tinggal sekali ini di sini? Engkau hendak ke Penang melihat pacu kuda? Kudaku telah kukirimkan ke sana dengan pesawat terbang. Tak mau lagi aku mengirimkan kuda dengan kapal. Pertama kali aku berbuat demikian, maka kuda mabuk laut. Tak ada gunanya lagi di pacuan. Dengan kereta api aku khawatir. Maklumlah sekarang sebentar-sebentar kereta api diserang gerombolan.”
                Saya kenal Dr. Bannerjee mula-mula sekali ketika delegasi Indonesia mengunjungi konferensi Inter-Asia di New Delhi dalam tahun 1947, dan ikut aktif dengan sebuah panitia di Singapura yang banyak memberikan sokongan kepada revolusi Indonesia, menampung pemuda-pemuda dengan segala macam tugas yang syah dan tidak syah singgah di Singapura, maka terus saya singgah di rumahnya, dan menjadi kebiasaan baginya mengajak saya tiap kali singgah di Singapura untuk makan sekali di rumahnya, dan kemudian makan di luar rumah. Sekali harus makan di rumahnya bersama dengan keluarganya, isterinya, seorang anaknya perempuan yang telah gadis, yang setiap kali telah makan menggesek biola dan kemudian menyanyikan lagu-lagu India dengan suaranya yang merdu, dan tiga orang anak-anak yang masih kecil-kecil.
                “Ada saatnya laki-laki harus bicara lepas-lepas dari isteri dan anak-anaknya,” kata Dr. Bannerjee memberi alasan, mengapa kami makan kedua kalinya di luar rumahnya.
                Saya syak dia suka mengajak saya makan ke luar rumahnya itu untuk menjaga agar isterinya dan anak-anaknya jangan mendengar pembicaraannya yang suka lepas-lepas saja tentang segala macam soal. Apalagi jika telah minum beberapa gelas wiski.
                “Apa beda wiski dengan perempuan,” dia akan bertanya memeluk gelas wiski dengan jari-jarinya, penuh kasih sayang.
                “Tidak tahu,” kataku.
                “Kalau engkau mabuk wiski, tubuhmu bisa rusak, mungkin jiwamu ikut rusak. Akan tetapi kalau engkau mabuk perempuan, bukan saja tubuhmu bisa rusak, jiwamu bisa rusak, tapi rohmu bisa ikut hilang. Jadi perempuan itu lebih berbahaya dari wiski,” dan dia meneguk wiskinya habis-habis.
                Akan tetapi saya tidak pernah melihat dia mabuk. Sebenarnya juga Dr. Bannerjee seorang yang amat baik hati, dan ucapan-ucapannya demikian tidak sungguh-sungguh dimaksudnya, hanya kelakarnya untuk menghilangkan banyak kenang-kenangannya yang tidak indah barangkali.
                Pelayang hotel datang ke meja kami, dan memberikan pada saya sehelai kertas yang ditulis dengan petelot tergesa-gesa: bolehkah saya berbicara dengan saudara sebentar? Dan surat itu tidak ditandatangani. Saya menoleh ke pintu, dan melihat seorang muda berdiri dekat pintu memandang ke meja kami.
                Penuh ingin tahu saya berdiri dan ke pintu. Dia segera mendapatkan saya, menarik tangan saya ke luar, dan berdiri di samping sebuah pot besar tempat pohon palem.
                “Nama saya Ramli,” katanya, “anak Indonesia, bolehkah saya bicara dengan saudara berdua-dua sebentar saja? Amat penting benar.”
                Saya melihat ke meja dokter Bannerjee duduk, dan kemudian bertanya padanya: “Sekarang?”
                “Terima kasih,” katanya, “saya dengar dari kawan-kawan saudara ada di sini. Saya disuruh kawan mengantarkan sebuah bingkisan,” dan dari saku bajunya dikeluarkan sebuah bungkus kecil. “Ada suratnya,” katanya, “minta disampaikan di Indonesia.”
                “Baiklah,” kata saya, “tentu akan saya sampaikan, tidakkah Saudara hendak duduk ke dalam?”
                Dia tergesa-gesa menjabat tangan saya, mengucapkan banyak terima kasih, dan kemudian menghilang saja, dan semuanya seakan mimpi aneh saja bagi saya. Hanya tanganku memegang bingkisan itu.
                Saya kembali ke meja. Dr. Bannerjee sedang merokok, dan memandang kepada saya. “Seorang memberikan bingkisan,” kataku padanya, dan meletakkan bungkusan itu di atas meja. Sesungguhnya sudah ingin saja aku membukanya, dan membaca surat di dalamnya. Tetapi saya berbuat pura-pura tidak acuh, dan terus makan kembali.
                Kami telah selesai makan, dan setelah menyelesaikan hidangan es krim, Dr. Bannerjee mengajak untuk pergi berangin-angin di restoran, di atas atas gedung lapangan terbang Kalang di luar kota.
                Ketika kami sampai restoran belum begitu ramai. Sebuah band music memainkan musik dansa. Ketika kami lewat band, pemain-pemain mengangguk pada Dr. Bannerjee.
                Dia sering kemari rupanya. Dr. Bannerjee mencari tempat di ujung yang agak kosong dan tidak ramai. Kami duduk diam-diam sebentar, melepaskan penat mendaki tangga, dan merasakan segar hembusan angin dari laut. Di bawah terdengar derum mesin pesawat udara yang baru dipasang. Di menara lampu berkelip-kelip memberi tanda dan derum pesawat udara menjauh. Musik dansa berhenti sebentar, dan ketika mulai kembali beberapa pasang berdiri dari meja, dan melangkah ke tengah. Seorang perempuan muda yang memakai baju strapless merah nyala yang erat membalut tubuhnya melangkah dengan seorang separuh baya yang tidak menarik hati ke tengah lantai dansa. Ketika mereka berputar dekat meja kami, perempuan muda itu mengangguk dan tersenyum pada Dr. Bannerjee.
                “Stella,” kata Dr. Bannerjee setelah mereka berputar kembali menjauh dari meja, kembali ke tengah lantai dansa, “dia dulu stewardess Malayan Airways, kemudian bekerja jadi chief hostess di sebuah night club, dan sekarang dipelihara orang itu. Orang kaya. Kerjanya … ah, siapa yang mau periksa?”
                Tanya saya masuk ke saku hendak mengampil sapu tangan, tersentuh pada bungkusan yang disampaikan orang di hotel tadi. Tiba-tiba timbul hasrat hatiku hendak segera membaca surat dalam bungkusan itu.
                “Maafkan aku,” kataku pada Dr. Bannerjee, rasa ingin hatiku mengalahkan sopan santunku, “aku hendak membaca surat dahulu!”
                Dr. Bannerjee tertawa, dan memanggil jongos memesan minuman.
                “Bier saja,” kataku padanya, ketika dia berpaling bertanya.
                Surat dalam bingkisan itu pendek saja, dari seorang yang tidak aku kenal, dan tidak pernah mendengar namanya. Dia menerangkan, bahwa dia seorang Indonesia, dan ikut bergerilya dengan pemuda-pemuda Melayu melawan Inggris, dan dalam bingkisan itu ada sebuah gambar dan cincin kawannya, juga seorang anak Indonesia, tetapi telah tewas dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Inggris. Apakah saya suka menyampaikan atau meneruskan kepada ibu kawannya yang telah tewas itu? Dan diberikan alamat ibu anak yang tewas itu di Sumatera. Pada permulaannya Inggris main keras terhadap orang komunis dan kaum nasionalis Malaya yang mereka anggap radikal, dan banyak pemimpin Malayan Nationalist Party umpamanya yang ditangkapi, atau melarikan diri mereka. Di antara mereka ada yang ikut lari ke hutan-hutan dan mengangkat sejata melawan Inggris. Ada pula anak-anak Indonesia yang ikut, karena macam-macam soal. Ada yang karena merasa perjuangan bangsa Melayu adalah perjuangan Indonesia juga, ada yang karena hubungan pribadi, dan sebagainya.
                Surat itu saya lipat baik-baik, dan bungkusannya saya masukkan kembali ke dalam saku saya, dan entah karena apa, ketika hendak menyimpan surat itu kembali, saya sodorkan suratnya kepada Dr. Bannerjee dan berkata:
                “Cobalah baca Dr. Bannerjee!”
                Dr. Bannerjee membaca surat itu, dan tiba-tiba air mukanya berubah. Kulitnya yang hitam kelihatan sebagai kelabu, matanya agak membelalak terkejut, napasnya seakan sesak. Dengan susah payah dikuasainya dirinya, dan kemudian diminumnya wiskinya habis-habis, dan jarinya gemetar meletakkan surat itu kembali ke meja.
Aku jadi cemas.
                “Sakitkah engkau dokter?” tanyaku.
                Dia menghapus mukanya yang basah dengan keringat dingin dengan sehelai sapu tangan yang besar dan berkata per lahan-lahan, suaranya serak: “Surat itu mengejutkanku. Mengingatkan aku pada sesuatu yang lama aku coba lupakan. Saya akan berceritera padamu. Telah terlalu lama benar saya pendam rahasia ini sendiri saja. Dengarlah ceritaku ini hingga selesai. Kemudian terserahlah padamu sendiri. Surat ini mengingatkan saya pada suatu hari dalam permulaan tahun 1946, ketika revolusi di Indonesia sedang memuncaknya, dan banyak anak-anak muda Indonesia yang datang kemari mencari senjata, minta bantuan dan sebagainya. Singapura ketika itu masih di bawah peraturan militer yang amat keras. Orang preman dilarang menyimpan senjata api atau peluru, dan dapat dihukum mati jika melanggar peraturan itu. Pada suatu hari datang seorang Melayu ke rumahku, memanggil aku ke rumahnya, karena di rumahnya ada seorang yang sakit keras, dan memerlukan pertolongan dokter. Dia datang siang hari kurang lebih pukul 12. Segera aku siapkan tasku, dan kami berangkat ke rumahnya yang terletak di perkampungan orang Melayu. Aku terus dibawanya ke kamar di belakang rumah. Di tempat tidur kelihatan terbaring seorang muda. Umurnya masih muda benar. Kutaksir kurang lebih 24 tahun. Mukanya pucat benar, yang kelihatan menonjol ke luar dari kain selimut tipis. Raut mukanya yang halus dan manis. Segera aku bukakan selimutnya, dan alangkah terkejutnya aku melihat dadanya telah penuh dengan darah merah yang mengental. Aku memandang pada orang Melayu yang memanggil aku, dan sedang aku memeriksa lukanya, maka orang Melayu itu berceritera, bahwa anak muda itu datang dari Indonesia mencari senjata ke Singapura. Dan dia dapat celaka ketika memain-mainkan peluru senapan mesin berat yang dipukul-pukulkannya ke meja, dan tiba-tiba meledak dan melukai dirinya sendiri. Di bawah tempat tidur tempat anak muda yang malang itu terbaring telah ada tiga peti senjata api dan peluru, yang menurut anak muda itu sebelum terjadi kecelakaan pada dirinya, akan diangkut ke Sumatera dan hanya menunggu kapal saja.
                Segera aku tahu, bahwa lukanya berbahaya benar. Dan dia telah kehilangan darah terlalu banyak. Dan peluru di dalam harus dikeluarkan dengan operasi. Keadaannya amar berbahaya benar. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit. Tranfusi darah, dan operasi. Segera aku berkemas, dan berkata pada orang Melayu itu:
                ‘Dia harus ke rumah sakit sekarang juga. Itupun belum tentu dia akan dapat tertolong. Seharusnya tidak usah memanggil saya tadi, tetapi segera dibawa ke rumah sakit.’
                Orang Melayu itu terkejut bukan kepalang, dan mukanya penuh ketakutan. ‘Tetapi jika dibawa ke rumah sakit,’ katanya, ‘maka lukanya yang kena peluru itu harus dilaporkan oleh rumah sakit kepada polisi. Polisi akan melakukan pemeriksaan. Rumah ini akan digeledah. Kami semua akan ditangkap. Senjata ini akan dirampas. Tuan dokter obati dia di sini. Jangan dibawa ke rumah sakit’.”
                “Waktu itu,” kata Dr. Bannerjee meneruskan ceriteranya, “aku kehilangan akal, tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Dan aku merasa amat tidak adil dia meletakkan jiwa anak muda itu ke dalam tanganku.”
                Suara Dr. Bannerjee serak, seakan dia merasakan kembali saat-saat yang menggoncangkan hidupnya itu.
                “Tidak harus aku campur dalam urusan mereka,” kata Dr. Bannerjee kembali. “Aku sebagai dokter berkewajiban menolong orang yang sakit. Dan menurut pengetahuanku sebagai dokter anak muda itu harus dibawa ke rumah sakit dengan segera, jika jiwanya hendak ditolong. Sebaliknya perkataan orang Melayu itu membingungkan hatiku. Dalam pikiranku tergores apa yang akan terjadi, jika luka anak muda itu dilaporkan kepada polisi, bagaimana senjata itu akan disita, keluarga di rumah itu akan ditangkap, dan mungkin sekali seluruh organisasi pembelian senjata Indonesia itu akan hancur. Bolehkah aku mengorbankan jiwa anak muda itu? Mengorbankan jiwanya untuk menjaga supaya organisasi pembelian senjata orang Indonesia dapat selamat? Siapa aku untuk dapat mengambil putusan yang demikian? Adakah hakku? Sebagai manusia? Sebagai dokter? Sebagai pencinta perjuangan kemerdekaan manusia? Dapatkah aku menganggap anak muda itu tewas dalam melakukan tugasnya sebagai seorang serdadu? Dapatkah jiwaku akan tenteram, jika aku tidak paksa membawanya ke rumah sakit?
                Aku masih bimbang, ketika tiba-tiba pintu dibukakan orang, dan dua orang muda masuk ke kamar dengan tergopoh-gopoh, dan mendekati tempat tidur, dan tidak dapat berbuat apa-apa melihat anak muda yang pingsan terbaring di tempat tidur, dan seorang berkata padaku mendesak:
                ‘Ayo dokter, tolonglah dia.’
                Aku terkejut, tetapi segera aku membuka tas kembali, dan mengeluarkan perban, dan sedang aku membalut lukanya, maka kedua orang muda itu mengeluarkan peti-peti senjata dari bawah tempat tidur dan mengangkutnya ke luar kamar.
                Mereka pergi dengan tiada berkata apa-apa lagi, tetapi setelah aku selesai membalut lukanya, tahulah aku, bahwa jiwa anak muda itu tidak akan tertolong lagi, biarpun dia dibawa juga ke rumah sakit. Seperempat jam kemudian dia meninggal, dan sejak itu, amat kerap benar timbul dakwaan dalam jiwaku sendiri, bahwa aku telah bersalah, dan akulah yang bertanggung jawab atas kematian anak muda itu. Dan apakah matinya itu sungguh-sungguh berguna untuk bangsanya?”
                Dr. Bannerjee menghapus mukanya dengan sapu tangannya, dan dia menatap mukaku. Di matanya ada satu sinar yang mencoba sekuat-kuatnya menajuk lubuk hatiku, dan sesaat aku merasa, seakan waktu berhenti mengalir, musik dansa menjauh menghilang, dan yang ada hanya angkasa kelam dengan ribuan bintang yang berkelip-kelip, dan ini seorang manusia –Dr. Bennerjee – yang bertahun-tahun menderita sendirian dalam kesepian jiwanya, dan sekarang jiwa telanjang dibukakannya demikian.
                Pada saat serupa itu, ketika seorang manusia menelanjangi jiwanya dengan luka-lukanya yang masih ngilu itu, maka terasa benar serba kekuranganku untuk mencari kata-kata yang dapat dan patut diucapkan. Dan apa yang dapat aku katakan? Tiada berubah perasaan persahabatanku terhadap dirinya setelah mendengar ceriteranya yang amat hebat itu, dank arena itu aku angkat gelasku padanya, dan sambil melihat ke tempat dansa, aku berkata:
                “Dokter, itu Stella sungguh seorang perempuan yang menggairahkan hati!”
                Dan aku tahu Dr. Bannerjee mengerti rasa hatiku, karena ketika dia meneguk wiskinya, terasa kudengar dia berkata – terima kasih!


Teks cerpen karya Mochtar Lubis diubah menjadi 5 karya teks puisi.


Turis
Karya Amartya Salma


Mereka turun dari kapal
Dengan pakaian penuh warna yang menyilaukan mata
Bercorak penuh kembang yang cocok dengan hawa panas
Orang-orang yang senang dan berbahagia
Mereka lewat satu negeri
Berpuluh negeri lain
Datang dan pergi
Membawa perasaan kecewa atau kagum
Kemudian pergi terus
Acap kali membawa kenang-kenangan yang indah dari pengalaman mereka


Beda Wiski dengan Perempuan
Karya Amartya Salma


Saat kau mabuk wiski
Tubuhmu bisa rusak
Mungkin jiwamu ikut rusak
Akan tetapi
Saat kau mabuk perempuan
Bukan saja tubuhmu rusak
Jiwamu rusak
Rohmu bisa ikut hilang

Jadi perempuan itu lebih berbahaya dari wiski


Pemuda Itu
Karya Amartya Salma


Ramli namanya
Anak Indonesia katanya
Seorang pemuda yang datang
Memberiku bingkisan
Dan surat tuk disampaikan di Indonesia

Sambil tergesa menjabat tanganku
Berucap banyak terima kasih
Kemudian menghilang saja
Itu si Ramli


Surat dalam Bingkisan
Karya Amartya Salma


Berpura-pura ku tak acuh pada surat itu
Walau sudah menggebu ingin membaca
Sampai akhirnya klimaks hasrat hatiku
Kuabaikan sopan santun tuk membacanya

Surat dalam bingkisan itu pendek saja
Dari seorang yang tidak aku kenal
Tidak pernah pula kudengar namanya

Ah, pemuda Indonesia rupanya
Pergi jauh dari rumahnya
Untuk membantu gerilyawan Melayu
Melawan para biadab-biadab kolonial

Salah satu temannya kini telah berbaring
Menjadi salah satu tumbal ketidakadilan
Yang tersisa hanya sebuah cincin
Sebuah pengikat janji sucinya dengan orang di seberang sana

Hanya sebuah permintaan penyampaian
Yang entah dapat kukabulkan atau tidak


Ceriteranya
Karya Amartya Salma


Dalam permulaan tahun 1946
Ketika revolusi Indonesia memuncak
Takdir membawaku menemuinya
Dikeadaan mirisnya
Mengharuskanku untuk memilih
Nasibnya ada di tanganku
Yang kuanggap sama sekali tidak adil
Aku bukan Tuhan
Aku tidak bisa memutuskan
Aku kehilangan akal
Saat tangan ini bergerak
Kulakukan apa yang kubisa
Justru yang tidak diinginkanlah yang terjadi
Amat kerap benar timbul dakwaan dalam jiwaku sendiri
Bahwa aku telah bersalah


BERTEPUK SEBELAH TANGAN

Karangan N.H. Dini


Suara sunyi malam mulai datang suara angin mengalun berhembus, lampu seperti semakin temaram walau sebenarnya tidak meredup. Hanya saja Nina sudah merasa sangat terkantuk, kelopak matanya ingin mengatup, dan matanya tak kuasa menahan beban kelelahannya. Terkadang kantuk itu menguat membuatnya hanyut sebentar namun tidak lama ia tersadar dan meneruskan kegiatannya. Sudah tiga jam dia mengerjakan tugas rumahnya, tugas Fisika. Mata pelajaran paling tajam dari pada matematika, dengan rumus-rumus rumit berselang-seling. Ditambah dengan guru pengajarnya yang galak dan tegas pada setiap murid yang tidak mengerjakan tugasnya, ia akan memberikan hukuman seperti dikeluarkan selama pelajaran atau mengerjakan soal di papan tulis sampai bisa dan dilarang melihat rumus.

Pelajaran SMA paling menyeramkan pikirnya dalam hati, Nina lalu membalikkan referensi buku yang ia pinjam dari perpustakaan tadi siang. Sebenarnya ia jarang meminjam buku disana hanya saja ada sebuah alasan. Seseorang yang ia suka, Hafid terlihat olehnya memasuki perpustakaan saat ia dan Putri baru saja membeli jajanan di kantin. Terpikir olehnya bahwa ia ingin menyapa walau hanya sebentar mungkin bisa mengobati hatinya yang rindu melihat wajahnya, ia mengajak putri memasuki perpustakaan dan menulis daftar hadir pengunjung. Putri berjalan mendahuluinya sedangkan ia mencari dimana Hafid berada, ia menyusuri jajaran buku, tangannya menyentuh deretan buku tapi matanya berkeliaran mencari Hafid. Nina bahkan melupakan sahabatnya yang sedang sibuk duduk di bangku memilih-milih buku untuk dibacanya.

Akhirnya terlihat olehnya seseorang, ia hapal betul postur tubuhnya, tercium olehnya buku-buku usang yang sudah berwarna kuning dimakan waktu. Dilihat olehnya Hafid sedang berbungkuk mencari buku-buku dalam sebuah kardus-kardus yang tersusun, sepertinya buku-buku dalam kardus itu sudah akan dibuang karena sudah uzur. Terdengar olehnya suara kardus yang tersetuh lengan Hafid dan suara buku yang disimpannya kembali kedalam.

“Sedang apa kak?” Nina yang tepat di belakangnya siap memperlihatkan senyum termanisnya.
“Oh.. Nina, ini lagi nyari buku. Kata Bapak perpus buku yang kakak cari ada disini. Di tumpukan buku usang.” Hafid berdiri dan memegang buku di tangannya, buku itu terlihat usang dengan robekkan dan coretan tak berarti di covernya.
“Sedang cari buku?” Hafid bertanya membuat Nina terkejut harus menjawab apa.
“e..e.. ia lagi nyari novel Kak,”
“suka novel ya? Pernah baca karya NH.Dini?”
Nina menggeleng.
“Coba baca deh, novelnya sederhana tapi menurut Kakak berkesan” Nina mengangguk, lalu Hafid pergi setelah sebelumnya meminta izin pada Nina.

Walau hanya sekejap pertemuan tadi siang dengan Hafid, ia sudah sangat senang. Entah perasaan apa itu? ia sedang jatuh cinta. Cinta yang entah keberapa kalinya ia sekarang sedang menjomblo, namun kali ini berbeda Nina menutup diri dan memendamnya. Tidak ada yang tahu bahwa ia mencintai seorang ketua OSIS, bukan karena ia malu. Namun ia hanya ingin membuat Hafid terkesan dan akhirnya jatuh cinta padanya. Cintanya kali ini berbeda, sungguh hanya ia yang tahu. Namun cinta ini memiliki kesamaan dengan cinta sebelumnya, ia tidak bisa tidur kerena memikirkannya, ia selalu melamun memikirkannya dan bahkan akhir-akhir ini ia menjadi rajin akibat motif cintanya kepada Hafid, itu pengaruh jatuh cinta yang bagus. Terang saja Nina merasa sangat bergairah saat belajar akhir-akhir ini, ia merasa malu jika ia mendapatkan nilai jelek. Hatinya selalu mengira-ngira bagaimana kalau Hafid tau bahwa dirinya payah dalam hal prestasi di kelas, saat itulah timbul semangat dalam dirinya.

Hafid adalah seorang laki-laki yang sopan dan terlihat cerdas apalagi saat ia berbicara, tidak salah dia terpilih menjadi ketua OSIS. Ia seorang lelaki yang mudah bergaul dan tidak pilih-pilih dalam berteman. Perawakannya tinggi dan kurus, dengan senyum yang selalu mewarnai wajahnya.

Jam dinding tua di ruangan tengah berbunyi dua belas kali, namun matanya kini sudah bisa beradaptasi dengan suasana ditambah secangkir moccacino yang ia buat sendiri. Namun ia sadar ia harus tidur. Nina mampu terjaga setelah dalam hatinya teringat Hafid, ‘mungkin ia juga sedang belajar’ pikirnya. Tugas Fisika itu sudah hampir selesai, ia sibuk menghapus, menulis, mengotret dengan banyak sisa-sisa kotoran penghapus yang sudah menyebar di buku catatannya. Ia menulis jawaban terakhirnya, merapihkan peralatan tulis dan buku catatannya lalu memasukannya ke tas. Nina mengambil cangkir Moccacino-nya dan meneguk minuman Mocca terakhirnya, ia beranjak menuju kamar mandi dan menggosok giginya. Lalu pergi ke tempat tidur mengistirahatkan diri sambil mengucap doa.

Pagi terasa lain hari ini, entah apa yang akan terjadi. Sesuatu seperti mengganggu hatinya namun apakah itu? ia bertanya-tanya dalam hati. Nina berusaha menghilangkan perasaan itu dan cepat menyibukkan dirinya dengan berangkat ke sekolah. Pagi itu cerah, matahari bahkan menerangi bumi sangat awal, kehangatannya menemani angin pagi yang masih berhembus. Nina berjalan menyusuri jalan gang, baru saja ia turun dari angkot hijau. Biasanya ia melewati gang untuk sampai ke sekolah walau ada jalan lain yaitu jalan raya utama, kau tahu juga alasannya karena Hafid. Ia selalu melewati gang ini. Beberapa kali Nina beruntung bisa berjalan bersama atau bahkan hanya saling sapa, ada kepuasan tersendiri dalam hatinya. Namun pagi ini berbeda, Hafid tidak tampak melewati gang.

Sesampainya di kelas ia duduk di depan, sahabat dan sekaligus teman sebangkunya sudah terlihat dengan beberapa alat tulis dan catatan di mejanya. Suasana kelas sudah tampak gaduh, Nina baru sadar karena hari ini ada tugas Fisika. Biasanya ia juga sama dengan teman-teman yang lain, mondar-mandir sebelum jam masuk mencari teman yang sudah menyelesaikan tugas lalu menyontek jawaban teman yang baik dan malang. Namun kali ini ia tidak melakukannya, ia sudah berusaha keras sampai tengah malam untuk mengerjakannya.

“Tugas Fisikanya sudah selesai?” Putri bertanya dengan wajah sayu seperti kelelahan.
“Sudah, aku berusaha keras tadi malam” Nina menunjukkan senyum bangganya.
“Aku sudah berusaha mengerjakan, tapi tidak ketemu hasilnya” Putri menghapus catatan yang ditulisnya mungkin jawabannya belum tepat. Nina termenung tidak biasanya Putri kali ini kesulitan mengerjakan tugas pikirnya.
“Sini aku bantu” Nina mendekatkan diri ke arah putri duduk, agar bisa menjangkau catatan dan alat-alat tulis. Sampai bel masuk berbunyi, suasana menjadi sunyi. Murid-murid terlihat rapi dan sikap taat yang dibuat-buat karena terihat dari jendela Ibu Mira pengajar Fisika berjalan menuju kelas.

Dentam bel berbunyi, menyuarakan sebuah nada bel yang khas tanda waktu istirahat para murid. Siswa-siswi disibukkan dengan kesibukkan masing-masing, makan, mengobrol, membaca, mengerjakan tugas dan lain-lain. Nina dan putri berjalan menuju kantin, mereka berencana membeli beberapa gorengan Bu Entin yang juga istri penjaga sekolah. Itulah kebiasaan mereka selalu bersama-sama kemanapun, seperti tidak pernah terpisahkan. Sejak kelas satu mereka selalu bersama, bahkan sampai sekarang mereka kelas dua selalu saja duduk sebangku. Nina sudah menganggap Putri seperti saudaranya sendiri, dimana ada Nina pasti disana ada Putri, jika tidak mungkin mereka sedang bertengkar itulah yang dikatakan teman-teman mereka. Putri lebih dari sahabat baginya, selalu menemani disaat suka dan duka, bersedia mendengarkan cerita-ceritanya tentang keluarga ataupun tentang pacar-pacarnya. Putri adalah perempuan yang menarik menurut Nina, ia tertutup dalam mesalah cinta ia bahkan tidak percaya dengan pengakuan Putri bahwa ia belum memiliki pacar sampai sekarang. Wajahnya cukup cantik dengan tubuh mungil, rambut panjangnya terlihat sering di ikatnya katanya agar tidak menganggu saat sedang belajar. Putri orangnya susah untuk ditebak, ia pendiam tapi bersikap tegas dalam mengambil keputusan, Putri juga terlihat sering membela dirinya dan membantunya dalam mengerjakan tugas yang dianggapnya sulit.

Mereka duduk di depan Perpustakaan sambil memakan jajanan gorengan, Nina dan Putri saling berpandangan dan mengobrol kadang tiba-tiba mereka tertawa bersama mengingat pelajaran fisika tadi, ada kejadian menarik. Bu Mira tiba-tiba mengatakan akan mengadakan ulangan, tadi. Sontak siswa-siswi protes dan tidak setuju dengan keputusan Guru Fisika itu. Namun bukan Bu Mira namanya kalau tidak menuai kontroversinya dalam hal mengajar yang terbilang ekstrem, Ibu bilang ‘Ibu sudah pernah berkata pada kalian, untuk belajar bukan karena hanya ada perkerjaan rumah saja, tapi setiap hari karena saya akan selalu mengadakan ulangan secara mendadak’. Dengan terpaksa siswa-siswi yang terlihat pasrah mengeluarkan kertas selembar yang di perintahkan Bu berparas cantik namun terlihat sangar jika marah, sementara Bu Mira sudah menulis soal-soalnya di papan tulis. Tiba-tiba terdengar suara ketuk pintu, ternyata seorang guru piket yang menyampaikan ada rapat di ruangan guru, semua guru harus hadir saat itu juga. Bu Mira berhenti menulis soal di papan tulis, ia lansung mengambil alih pembicaraan dan berkata bahwa ulangan diundur disaat siswa-siswi sudah berteriak riuh karena lega untuk sementara mereka selamat. Bu Mira lalu pergi membawa tas dan peralatannya yang menandakan bahwa rapat akan menghabiskan semua jam pelajarannya di kelas 8C.

Di tengah obrolan yang masih mengarah pada pelajaran Fisika, Hafid dan seorang temannya melintas di hadapan Nina. Hafid dan temannya melihat dan menyapa ke arah Nina, Nina langsung semangat menyapa Ketua OSIS pujaannya. Sementara Putri terlihat malu-malu saat Hafid lewat, ia menunjukkan sikap tidak seperti biasa. Nina bertanya-tanya melihat sikap sahabatnya itu, ‘apa mungkin Putri juga menyimpan rasa pada Hafid?’ namun pikiran itu ditangkisnya, sahabatnya itu terlalu pemalu untuk suka pada seseorang pikirnya. Nina juga yakin Putri mengerti bahwa ia menyukai Hafid walau Nina tidak pernah menceritakan perasaannya itu. Baginya mungkin perilakunya pada Hafid mungkin cukup untuk membuat Putri paham kalau ia menyimpan rasa padanya.

Bel tanda masuk berbunyi, Nina dan Putri berjalan menuju kelas mereka. Kelas sudah penuh sesak, teman-teman mereka riuh bercampur ribut seperti kebiasaan istirahat. Tiba-tiba Ketua kelas Nina berdiri di depan kelas, ia meninggikan suaranya bersiap mengeluarkan teriakannya untuk menghentikan kebisingan kelas.

“Mohon perhatiannya..” Kata Johar dengan nada bijaksana yang sepertinya ia buat sebulat mungkin. Seisi kelas langsung menghentikan kesibukkan mereka, suasana kelas menjadi hening. Mereka sudah siap menerima informasi yang akan disampaikan Sang ketua kelas.

“Hari ini, kalian di bubarkan. Karena ada kepentingan rapat para guru, tapi kalian harus tertib dan jangan ribut” Johar lalu melangkah maju menuju tasnya, sepertinya ia akan segera pulang. Teman-teman yang lain juga begitu, mereka senang karena dipulangkan lebih awal. Sebagian siswa sudah meninggalkan kelas sementara yang lain masih dalam kesibukkannya, mereka biasa berdiam dulu dalam kelas merapihkan pakaian seragam mereka atau berdadan terlebih dahulu sebelum pulang. Nina mengambil cermin dari tasnya, ia memperhatikan wajahnya barang kali ada kotoran menempel pada wajahnya. Sementara Putri hanya berdiam diri memperhatikan Nina dan menunggunya selesai sebelum akhirnya mereka pulang menuju gerbang sekolah.

Putri menggeser kursinya lebih dekat dengan posisi Nina yang masih asyik bercermin.
“Nin aku mau cerita, boleh?”
“Boleh” Nina mengangguk, lalu memberikan senyum ke arah putri.
“Tapi ini rahasia” Putri melirik-lirikan matanya ke arah teman-temannya yang masih cukup banyak dalam kelas namun tampak tidak terlalu memperhatikan mereka berdua. Nina lalu mengangguk meyakinkan sahabatnya agar mempercayainya menyimpan rahasia apapun padanya. Nina menduga-duga, kira-kira rahasia apakah yang akan Putri ceritakan padanya, baru kali ini Putri bermain rahasia-rahasiaan biasanya ia yang selalu seperti itu.
“ini tentang Hafid” jantung Nina terasa berhenti saat mendengar nama itu terucap dari mulut sahabatnya yang kalem itu. Nina menghentikan kegiatannya bercermin, kini ia tertarik dengan ucapan Putri.
“Dia nembak aku tadi malam” Nina terlihat kaget mendengarnya, terucap di bibirnya kekagetan itu seakan tidak percaya perkataan sahabatnya. Putri kini terlihat menunduk mungkin malu memperlihatkan wajahnya yang merah pada Nina. Ekspresi Nina jadi tidak karuan, ia berusaha mengatur napasnya, hatinya seperti sakit tertekan entah oleh apa. Ada beban di hatinya yang begitu perih terasa. Apa yang terucap dari mulut Putri sulit untuk ia cerna dalam pikirannya. ‘Hafid nembak Putri’ hatinya terasa amat perih mendalam, matanya mulai berkaca-kaca tapi ia berusaha agar Putri tidak memperhatikannya. Ia tahu Putri ingin mengabarkan kabar gembira ini padanya, Nina sudah pernah mendesaknya agar ia mempunyai pacar. Dan kini ada seseorang yang mengatakan cinta padanya, seharusnya sebagai sahabat ia harus ikut senang merasakan kebahagian sahabatnya. Walaupun orang yang dicintainya yang menembak sahabatnya, walau kenyataan ini memang perih ia harus siapa menerimanya. Ia mencoba menabahkan hatinya terlihat Putri masih menyembunyikan wajahnya menunduk lalu tersenyum-senyum tanda bahagia di hatinya.

“Lalu bagaimana jawaban kamu?” Nina akhirnya bisa berucap walau ada sesuatu yang berat meganjal dadanya.
“Aku ingin minta pendapatmu” Putri lalu memegang bahu Nina, Nina terlihat agak gemetar walau ia dengan susah payah berusaha tabah.
“Me.. menurutku ia baik, Ketua OSIS lagi, terima saja Put,” Nada bicara Nina mulai gemetar ia menahan air mata yang mulai berembun menyelimuti matanya, napasnya terasa mulai tidak beraturan, mengapa begitu sakit pikirnya.
“Baiklah, aku akan bilang malam ini jawabannya” Putri tersenyum terlihat sangat bahagia, baru kali ini Nina melihatnya begitu sangat bahagia, ia sadar bahwa sahabatnya itu sedang jatuh cinta.
“Put, aku duluan ya, soalnya ada perlu disuruh jemput adik” Nina beranjak dan mengambil tas selendangnya dengan tangan yang masih gemetar, rasa sakit di hatinya tidak dapat terbendung lagi. 

Matanya sudah berkaca-kaca dan seperti tidak dapat terbendung lagi oleh kelopak matanya, mana mungkin di tengah kebahagian sahabatnya ia berkata jujur tentang hatinya. Rasanya juga percuma untuk mengatakan itu, buktinya Hafid sebenaranya mencintai sahabatnya, Putri. Wajah Putri masi berseri-seri karena senang, ia mengangguk mengizinkan Nina untuk pulang duluan.

“Aku akan cerita besok ya Nin” Putri berteriak saat Nina akan segera melewati pintu, ia menoleh sebentar dan memberikan anggukan kepada sahabatnya itu.

Nina bingung harus kemana ia pergi, tidak mungkin baginya menangis sepanjang perjalanan pulang menggunakan angkot. Ia berjalan menuju toilet menggantung tas selendangnya dan mengambil sapu tangannya, ia menghapus air matanya walau terasa sia-sia, air mata yang sempat tertahan tadi mengalir deras, rasa perih itu makin nyata. Ia rasa lututnya lemas, beban di dadanya semakin berat saja, sebegitu besarnyakah rasa cintanya pada Hafid sehingga seperti ini rasanya. Nina sadar bahwa cintanya telah bertepuk sebelah tangan. Ia berusaha menghibur dirinya sendiri, bahwa dirinya patut senang karena kebahagian sahabatanya. Ia juga harus yakin bahwa Putri adalah yang terbaik bagi Hafid, ia cantik, baik dan pintar sementara dirinya terkenal di kelas sebagai anak yang sering mengganti-ganti pacarnya terlebih selama ini Nina belum menunjukkan prestasinya di kelas. Sedangkan Putri adalah seorang siswi pandai yang tidak pernah absen masuk lima besar di kelas. 

Nina menyadari kesalahan-kesalahannya ia terlalu banyak berbuat sewenang-wenang pada adik kelas, dan merasa paling senior. Ia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Putri yang bisa membatasi pergaulannya walau terkadang ia sering mengabaikannya untuk berkumpul dengan anak-anak yang terkenal kerena kecantikannya dan exisnya di sekolah. ‘Putri adalah seorang yang terbaik untuk Hafid, seharusnya aku bahagia’ pikirnya. Ia menghapus air matanya yang mengering dengan tisu basah dari tasnya. Hatinya sudah membaik sekarang. Rasa perih itu mulai berkurang, hatinya mulai bisa menerima. Ia membasahi kedua matanya yang terlihat bengkak karena menangis, lalu mengusapnya dengan saputangan, ia lalu keluar dari toilet. Sebelumnya ia melihat-lihat barang kali ada orang yang akan melihatnya bila ia keluar. Tapi ternyata seisi sekolah sudah sepi, yang terdengar hanya suara kepala sekolah yang sedang memimpin rapat di ruang guru, Nina keluar dengan mata yang terlihat merah dan bengkak.

Ia berjalan menyusuri kelas di lorong menuju Perpustakaan, ia teringat lagi oleh Hafid lalu ia buang pikiran itu jauh-jauh. Ia masuk ke Perpustakaan untuk mengembalikan buku referensi Fisika yang ia pinjam kemarin saat ada Hafid, dan tentunnya sebelum kejadian ini.

Ia mengisi daftar pengunjung, Bapa penjaga Perpus yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu memandangnya aneh karena Nina terlihat berantakan dengan mata seperti kemasukan air, bengkak. Untung Bapa Perpus tidak bertanya apa-apa, Nina lalu duduk di bangku Perpus. Ia memutuskan mengistirahatkan dirinya sebentar sebelum pulang. Teringat olehnya bahwa Putri akan bercerita tentang Hafid saat ia menjawab cintanya besok, ia harus siap dan melupakan Hafid. Ia juga sadar bahwa ia harus mengubah sifatnya mulai sekarang, ia bertekat untuk fokus belajar untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia sadar bahwa selama ini banyak membuat orang tuanya sedih karena ia sering membuat ulah di sekolah, bertengkar dengan adik kelas ataupun karena nilainya yang kurang dari ketuntasan beberapa mata pelajaran. Di meja tempat ia duduk terlihat sebuah buku novel yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya, ia lalu mengambilnya, di cover novel tersebut tertulis, ‘Padang ilalang di belakang rumah karya NH.Dini’.


Teks cerpen karya N.H. Dini diubah menjadi 5 karya teks puisi.


Tugas Rumah
Karya Muhammad Raafi


Malam itu angin berhembus pelan
Sinar lampu tidak juga meredup
Namun wanita itu sudah terkantuk
Menahan beban yang dia pikul

Tiga jam melaksanakan kewajiban
Rumus fisika yang memusingkan
Ditambah guru yang mengajar
Sosok yang galak juga tegas

Hanya ada satu pikiran di benaknya
Yaitu hukuman yang menunggunya
Memaksa dia untuk tetap teguh
Mengerjakan hal yang dibencinya


Malu Tapi Mau
Karya Muhammad Raafi


Langkah kaki saat menuju kantin
Terhenti untuk kagum sementara
Ada rasa yang menyangkut di hati
Saat mata ini tertuju pada dirinya

Ingin mulut ini menyapa
Karena rindu melihat wajahnya
Berbelok langkah kecil ini
Untuk memuaskan rasa di hati

Perpustakaan yang kumasuki
Hanya untuk basa basi saja
Melihat kekiri dan kekanan
Untuk melihat wajah dirinya


Sekejap Saja
Karya Muhammad Raafi


Kutemukan dirimu membungkuk
Dibalik rak buku yang usang itu
Kulontarkan pertanyaan sederhana
Kau jawab dengan penuh kehangatan

Percakapan yang singkat itu
Adalah hal yang berkesan
Kuharap waktu bisa dihentikan
Namun kau pergi tanpa pamit

Pertemuan ini sangat berkesan
Entah apa yang kau pikirkan
Ucapanmu tadi sangatlah indah
Apakah ini yang namanya cinta ?

 

Andaikan Saja
Karya Muhammad Raafi


Andaikan dirimu tahu
Aku semangat belajar
Malu akan nilai jelek
Hanya karena dirimu

Dirimu yang sopan perilakunya
Cerdas ketika sedang berbicara
Dan tidak memilih saat berteman
Juga senyum yang ada di wajahmu

Masih teringat dalam benak ini
Kulihat banyak hal indah darimu
Baik perawakanmu ketua tampan
Ataupun perilakumu yang  budiman


Selamat Malam
Karya Muhammad Raafi


Dua belas kali kudenagar suara itu
Pertanda waktu yang semakin malam
Saat yang tepat untuk beristirahat
Setelah menghabiskan moccacino ini

Kutulis jawaban terakhirku
Sembari merapihkan alat tulis
Menyusun buku catatan ini
Lalu kumasukkan kedalam tas

Karenamu aku masih terjaga
Semangat kecil yang muncul
Agar bisa diperhatikan olehmu
Akan menjadi mimpi yang indah


KETIKA MAS GAGAH PERGI

Karangan Helvi Tiana Rosa


Mas Gagah berubah!

Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah !

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja… ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji.

Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan, Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !

“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih ?”

“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho ! Gila, berabe khan ?”

“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku ?”

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?

“Mas belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He…he…he..” kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat !
Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

–=oOo=–

“Mas Gagah ! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras.

Tak ada jawaban. Padahal kata mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikuuum!” seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

“Matiin kasetnya !” kataku sewot.

“Lho emang kenapa ?”

“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah ! Memangnya kita orang Arab… , masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.

“Ini nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita !”

“Bodo !”

“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek…, mama bingung. Jadinya ya, di pasang di kamar.”

“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…, eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”

“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”

“Pokoknya kedengaran!”

“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho !”

“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Bon Jovi, Dewa, Jamrood atau Giginya?

“Wah, ini nggak seperti itu, Gita ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !” begitu kata Mas Gagah.

Oalaa !

Teks cerpen karya Helvi Tiana Rosa diubah menjadi 5 karya teks puisi.

Pertanyaan
Karya Muhammad Raafi


Ada apa gerangan yang terjadi ?
Mengapa tidak seperti dulu ?
Hal apa yang membuatnya begini ?
Semua masih menjadi misteri

Rasa penasaran ini terus mengusik
Sebelumnya kau tak seperti ini
Dirimu adalah lelaki yang sempurna
Mata ini tidak mungkin dibohongi

Lelaki yang sangat baik
Dan berpikiran cerdas
Juga selalu jadi periang
Itulah dirimu yang kukenal


Panutan Hidupku
Karya Muhammad Raafi


Semeter ketujuh yang dia jalani
Di kampus almamater kuning
Tidak berpangku kepada orang tua
Untuk membayar uang kulaihnya

Sejak kecil dia memang terbuka
Ia selalu bisa membuatku bahagia
Mengajak pergi kemana yang kumau
Menolongku disaat sedih dan sendiri

Selalu menghibur diriku saat merana
Mengiringi setiap langkah kecil ini
Mengajar mengaji sepulang aku sekolah
Dia memang lelaki yang kuidamkan


Kenangan Masa Itu
Karya Muhammad Raafi


Kadang teringat diri ini
Akan hal baik yang kau lakukan
Kejadian menyenangkan
Yang sangat berarti untukku

Hubungan yang semakin dekat
Ketika kita beranjak dewasa
Bersama menjalani hari-hari
Namun waktu yang terus begerak

Berharap untuk bisa kembali
Disaat dirimu masih seperti dulu
Menjadi orang yang kukenal
Tidak berubah dan apa adanya


Bahagiaku
Karya Muhammad Raafi


Emua kenangan manis saat itu
Waktu dimana kau mengagumkan
Tidak hanya untukku saja
Tapi juga orang sekelilingmu

Lelucon yang sering kau lontarkan
Membuat kita larut dalam tawa
Berjalan dan makan bersamamu
Saat menjeputku seusai teater

Tak ada yang tak menyukaimu
Semua ucapan dan perlakuanmu
Masih kuingat jelas sampai sekarang
Karena dirimu membuat orang bahagia


 Dirimu Yang Dulu
Karya Muhammad Raafi


Kemana perginya kau sekarang ?
Apa yang terjadi disana ?
Kenapa malah seperti ini jadinya ?
Aliran apa yang merasukimu ?

Pertanyaan ini masih ada dibenakku
Seakan mempertanyakan keadaan
Apakah ini realita atau bukan ?
Sedang bermimpikah diriku saat ini ?

Dulu kau sangatlah menikmati hidup
Mencintai musik yang sangat asik
Berkehidupan yang sewajarnya saja
Tapi tetap menjalankan kewajibanmu

Namun sekarang kau digaris keras
Itu yang kupikirkan saat melihatmu
Mendengarkan musik berbau Islami
Yang biasanya tak pernah terdengar

Aku ingin bertemu dirimu yang dulu

Skenario Pembelajaran di Kelas

SKENARIO PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENGARUH METODE PEER-CORRECTION TERHADAP PENGEMBANGAN CERITA RAKYAT KE DALAM BENTUK CERITA PENDEK PADA...