PERWATAKAN DALAM NASKAH DRAMA AYAHKU PULANG KARYA USMAR ISMAIL: SEBUAH PENDEKATAN OBJEKTIF
Muhammad
Raafi
NRM.
1201617051
Diajukan kepada
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Mata kuliah
Apresiasi Drama
PBSI
FBS
UNJ
2019
Abstrak
Naskah
drama adalah sebuah karya sastra yang ditulis dalam bentuk percakapan atau
dialog dan biasanya bertujuan untuk dipentaskan. Naskah drama juga merupakan
gambaran cerita tentang kehidupan manusia, dengan kata lain kehidupan manusia
tersebut dilukiskan dalam bentuk drama/naskah. Antara drama, naskah, dan pentas
sangat erat hubungannya dengan bahasa sastra. Terdapat dua unsur dalam naskah
drama yang dapat kita gunakan untuk memberdalam atau menggali sebuah naskah
drama baik dari segi intrinsik maupun ekstrinsik. Yang paling menarik dari
struktur pembangun dalam sebuah naskah drama adalah watak yang dibangun dalam
tokoh yang ada pada naskah tersebut, bagaimana cara sutradara harus bisa
mengetahui latar belakang setiap tokohnya hanya melalui informasi yang terlampir
dalam naskah drama tersebut. Seperti tokoh Tina pada naskah drama Ayahku Pulang yang sangat menarik untuk
digali lebih dalam utuk menampilkan keseluruhan dari tokoh Tina sampai di atas
panggung.
Kata
Kunci: Naskah Drama, Karya Sastra, Perwatakan, Struktur, Intrinsik, Ayahku Pulang, Tina.
PERWATALAN DALAM NASKAH DRAMA AYAHKU PULANG KARYA USMAR ISMAIL: SEBUAH PENDEKATAN OBJEKTIF
1.
Latar Belakang
Naskah
drama adalah karya sastra, yang akan berubah menjadi seni drama jika dimainkan.
Dalam sebuah naskah drama biasanya sang pengarang berpendapat ketika karyanya
telah diterbitkan maka “si penulis mati” sehingga membebaskan sang penggarap
atau yang biasa kita sebut sutradara dalam sebuah pementasan membebaskan
interpretasi yang dia gali dari naskah drama tersebut, mulai dari segi latar,
suasana, alur, penokohan, perwatakan, bentuk pementasan, dan lain-lain.
Dalam
ranah kampus biasanya naskah drama digali untuk mencari pesan yang tersirat
dari setiap kata yang tersusun. Melalui berbagai metode pendekatan baik itu
secara tradisional maupun modern, mahasiswa berhak untuk menyatubuhi naskah
drama baik dari perspektif tokoh manapun. Watak dalam naskah drama menjadi
salah satu kunci untuk menggali poin-poin penting yang ada dalam naskah.
Pada
mata kuliah Kajian Drama semester ke-3 ini, naskah drama Ayahku Pulang karya Usmar Ismail menjadi perbincangan hangat di
setiap tatap muka demi memperdalam pengetahuan mahasiswa untuk menggali hal-hal
penting dalam sebuah naskah drama, juga untuk mempersiapkan diri agar bisa
mengkaji sebuah naskah yang cocok dipentaskan jika melanjutkan ke mata kuliah
Apresiasi Drama.
Dari
setiap dialog yang ada dalam naskah drama Ayahku
Pulang, Tina sebagai ibu dari Gunarto memiliki peran yang penting. Watak
dari tokoh Tina yang ditulis oleh pengarang, dapat dikaji melalui metode secara
objektif. Dapat dilihat dialog yang tertulis dalam naskah drama ini untuk
mendalami tokoh Tina secara lebih terperinci.
2.
Pembahasan
Sebelum
masuk lebih dalam mengenai unsur intrinsik dalam naskah drama Ayahku Pulang, berikut adalah sinopsis
dari naskah drama tersebut:
Drama ini
mengisahkan tentang konflik keluarga dimana Raden Salah selaku kepala keluarga
pergi meninggalkan tiga orang anak yaitu Gunarto, Maimun dan Mintarsih serta
menceraikan Tina istrinya dengan keadaan ekonomi yang susah. Gunarto merasa
benci dengan ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, akan tetapi
Tina (Sang Ibu) terus berusaha mengingatkan Gunarto agar tidak membenci Raden
Saleh selaku Ayah kandungnya. Tina merupakan seorang Ibu yang luar biasa, tanpa
seorang suami dia berhasil membesarkan ketiga anaknya walau dengan keadaan yang
sangat sederhana.
Setelah 20 tahun
kemudian, Raden Saleh (ayah) kembali pulang ke rumah dalam keadaan tua renta
serta miskin, akan tetapi Gunarto masih tetap saja menyimpan rasa kebencian
pada ayahnya. Gunarto merasa bahwa selama ini dia tidak memiliki seorang ayah.
Kebencian
Gunarto terhadap Raden Saleh (ayah) berbanding terbalik dengan perasaan Ibu,
serta adik-adiknya. Mereka masih mau menerima ayahnya untuk kembali. Akan
tetapi apa daya, kebencian Gunarto menimbulkan perasaan yang berkecamuk bagi
Raden Saleh (ayah). Akhirnya Raden Saleh (ayah) memilih untuk pergi
meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tidak mengusik lagi kehidupan keluarga
kecilnya yang pernah dia tinggalkan.
Dari
sinopsis di atas terlihat benang merah dari naskah drama ini. Tokoh yang ada
dalam naskah drama Ayahku Pulang
memiliki peran yang hampir sederajat pentingnya, termasuk pembangunan suasana
dari setiap dialognya. Perwatakan tokoh yang ada termasuk dalam unsur intrinsik
dari Naskah drama tersebut.
Raden
Saleh (Ayah) :
·
Ayah
yang material.
Bukti
: “…dulu aku dihormati karena
mempunyai uang yang melimpah…”
·
Tidak
bertanggung jawab.
Bukti
: Gunarto: “Waktu aku berumur 18 tahun
tak lain yang terbayang dan terlihat di bola mataku hanya gambaran Ayah yang
telah sesat itu yang melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu
meyeretnya ke lembah kesengsaraan. Lupa kepada anak dan istrinya juga lupa
kepada kewajibannya karna nafsunya yang telah membuatnya ke pintu neraka.”
·
Sadar
diri.
Bukti : “Aku memang berdosa. Aku mengaku dan
itulah sebabnya aku kembali ke sini untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku.”
Tina
(Ibu) :
·
Pemaaf
dan masih mau menerima Raden Saleh.
Bukti : “Mari duduk dan temuilah mereka.”
Maemun:
“…tapi bang Ibu sudah memaafkannya.”
·
Mencintai
keluarga dengan merawat ketiga anaknya.
Bukti
: “Anak-anak sudah pandai sudah
mempunyai penghasilan masing-masing.”
Gunarto
:
·
Pendendam.
Bukti
: “Jika memang mempunyai seorang Ayah.
Maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!”
·
Keras
kepala.
Bukti
: “Jika kami punya Ayah untuk apa kami
membanting tulang selama ini?”
“Semua
ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil
Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi
kesulitan ini,Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih
keras lagi berusaha!”
·
Kejam.
Bukti
: “Sejak kapan kami memiliki seorang
Ayah? Kami tidak punya seorang Ayah!”
“Aku telah membunuh Ayahku sendiri!
Ayahku pulang!”
·
Pemarah.
Bukti
: “Jangan kau membela dia! Ingat,
siapa yang membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari
penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-benarnya
adalah aku!”
Maemun
:
·
Penurut.
Bukti
: Raden Saleh (Ayah) : “Maemun maukah
kau mengambil segelas air minum untuk Ayahmu?”
Maemun
: “Iya Ayah.”
·
Anak
yang mencintai keluarganya.
Bukti
: “Tapi lihat bang lihat kasihan Ayah
yang sudah tua.”
“…bang
Narto kita adalah darah dagingnya bagaimanapun buruk baiknya dia kita tetap
anaknya bang yang harus merawatnya.”
·
Pemaaf.
Bukti : .“…bang Narto kita adalah darah
dagingnya bagaimanapun buruk baiknya dia kita tetap anaknya bang yang harus
merawatnya.”
Mintarsih
:
·
Penurut.
Bukti
: Tina (Ibu) : “…Mintarsih dia itu
membantuku menjahit.”
·
Pemaaf.
Bukti
: “…dia Ayah kita bang Ayah kita
sendiri!”
3.
Kesimpulan
Watak
yang ada dalam tokoh dari naskah drama Ayahku
Pulang dapat terlihat dan tergambarkan dengan jelas. Gunarto sebagai tokoh
utama yang sangat membenci ayahnya akibat ditinggal tanpa kabar harus
berhadapan dengan ibunya yang masih menunggu sang ayah untuk pulang. Dari
pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan dalam naskah drama ini
merujuk kepada malam takbiran yang tidak seperti malam takbiran. Yang
seharusnya keluarga berkumpul penuh suka dan cita, namun karena sosok Gunarto
dengan watak keras kepala dan pendendamnya tega menolak sang ayah yang ingin
kembali kepada keluarganya.
4.
Rancangan
Pembelajaran
Sesuai
dengan Kurikulum 2013 revisi 2018, Permendikbud No. 37 tahun 2018. Makalah ini
sesuai pada jenjang:
a.
VIII
KD
3.15 Mengidentifikasi unsur-unsur drama (tradisional dan moderen) yang disajikan
dalam bentuk pentas atau naskah.
KD
3.16 Menelaah karakteristik unsur dan kaidah kebahasaan dalam teks drama yang
berbentuk naskah atau pentas.
b.
XI
KD
3.19 Menganalisis isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton.
KD
4.18 Mempertunjukkan salah satu tokoh dalam drama yang dibaca atau ditonton
secara lisan.
Daftar Pustaka
https://www.gurupendidikan.co.id/perwatakan-definisi-fungsi-karakter-cara-memahami-menggambarkannya/
No comments:
Post a Comment