Sunday, 16 June 2019

PERWATAKAN DALAM NASKAH DRAMA AYAHKU PULANG KARYA USMAR ISMAIL: SEBUAH PENDEKATAN OBJEKTIF


PERWATAKAN DALAM NASKAH DRAMA AYAHKU PULANG KARYA USMAR ISMAIL: SEBUAH PENDEKATAN OBJEKTIF
  
Muhammad Raafi
NRM. 1201617051

Diajukan kepada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Mata kuliah Apresiasi Drama

PBSI
FBS
UNJ
2019


Abstrak

Naskah drama adalah sebuah karya sastra yang ditulis dalam bentuk percakapan atau dialog dan biasanya bertujuan untuk dipentaskan. Naskah drama juga merupakan gambaran cerita tentang kehidupan manusia, dengan kata lain kehidupan manusia tersebut dilukiskan dalam bentuk drama/naskah. Antara drama, naskah, dan pentas sangat erat hubungannya dengan bahasa sastra. Terdapat dua unsur dalam naskah drama yang dapat kita gunakan untuk memberdalam atau menggali sebuah naskah drama baik dari segi intrinsik maupun ekstrinsik. Yang paling menarik dari struktur pembangun dalam sebuah naskah drama adalah watak yang dibangun dalam tokoh yang ada pada naskah tersebut, bagaimana cara sutradara harus bisa mengetahui latar belakang setiap tokohnya hanya melalui informasi yang terlampir dalam naskah drama tersebut. Seperti tokoh Tina pada naskah drama Ayahku Pulang yang sangat menarik untuk digali lebih dalam utuk menampilkan keseluruhan dari tokoh Tina sampai di atas panggung.

Kata Kunci: Naskah Drama, Karya Sastra, Perwatakan, Struktur, Intrinsik, Ayahku Pulang, Tina.



PERWATALAN DALAM NASKAH DRAMA AYAHKU PULANG KARYA USMAR ISMAIL: SEBUAH PENDEKATAN OBJEKTIF

1.      Latar Belakang

Naskah drama adalah karya sastra, yang akan berubah menjadi seni drama jika dimainkan. Dalam sebuah naskah drama biasanya sang pengarang berpendapat ketika karyanya telah diterbitkan maka “si penulis mati” sehingga membebaskan sang penggarap atau yang biasa kita sebut sutradara dalam sebuah pementasan membebaskan interpretasi yang dia gali dari naskah drama tersebut, mulai dari segi latar, suasana, alur, penokohan, perwatakan, bentuk pementasan, dan lain-lain.
Dalam ranah kampus biasanya naskah drama digali untuk mencari pesan yang tersirat dari setiap kata yang tersusun. Melalui berbagai metode pendekatan baik itu secara tradisional maupun modern, mahasiswa berhak untuk menyatubuhi naskah drama baik dari perspektif tokoh manapun. Watak dalam naskah drama menjadi salah satu kunci untuk menggali poin-poin penting yang ada dalam naskah.
Pada mata kuliah Kajian Drama semester ke-3 ini, naskah drama Ayahku Pulang karya Usmar Ismail menjadi perbincangan hangat di setiap tatap muka demi memperdalam pengetahuan mahasiswa untuk menggali hal-hal penting dalam sebuah naskah drama, juga untuk mempersiapkan diri agar bisa mengkaji sebuah naskah yang cocok dipentaskan jika melanjutkan ke mata kuliah Apresiasi Drama.
Dari setiap dialog yang ada dalam naskah drama Ayahku Pulang, Tina sebagai ibu dari Gunarto memiliki peran yang penting. Watak dari tokoh Tina yang ditulis oleh pengarang, dapat dikaji melalui metode secara objektif. Dapat dilihat dialog yang tertulis dalam naskah drama ini untuk mendalami tokoh Tina secara lebih terperinci.

2.      Pembahasan

Sebelum masuk lebih dalam mengenai unsur intrinsik dalam naskah drama Ayahku Pulang, berikut adalah sinopsis dari naskah drama tersebut:
Drama ini mengisahkan tentang konflik keluarga dimana Raden Salah selaku kepala keluarga pergi meninggalkan tiga orang anak yaitu Gunarto, Maimun dan Mintarsih serta menceraikan Tina istrinya dengan keadaan ekonomi yang susah. Gunarto merasa benci dengan ayahnya yang tidak bertanggung jawab pada keluarga, akan tetapi Tina (Sang Ibu) terus berusaha mengingatkan Gunarto agar tidak membenci Raden Saleh selaku Ayah kandungnya. Tina merupakan seorang Ibu yang luar biasa, tanpa seorang suami dia berhasil membesarkan ketiga anaknya walau dengan keadaan yang sangat sederhana.
Setelah 20 tahun kemudian, Raden Saleh (ayah) kembali pulang ke rumah dalam keadaan tua renta serta miskin, akan tetapi Gunarto masih tetap saja menyimpan rasa kebencian pada ayahnya. Gunarto merasa bahwa selama ini dia tidak memiliki seorang ayah.
Kebencian Gunarto terhadap Raden Saleh (ayah) berbanding terbalik dengan perasaan Ibu, serta adik-adiknya. Mereka masih mau menerima ayahnya untuk kembali. Akan tetapi apa daya, kebencian Gunarto menimbulkan perasaan yang berkecamuk bagi Raden Saleh (ayah). Akhirnya Raden Saleh (ayah) memilih untuk pergi meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tidak mengusik lagi kehidupan keluarga kecilnya yang pernah dia tinggalkan.
Dari sinopsis di atas terlihat benang merah dari naskah drama ini. Tokoh yang ada dalam naskah drama Ayahku Pulang memiliki peran yang hampir sederajat pentingnya, termasuk pembangunan suasana dari setiap dialognya. Perwatakan tokoh yang ada termasuk dalam unsur intrinsik dari Naskah drama tersebut.

Raden Saleh (Ayah) :
·           Ayah yang material.
Bukti     : “…dulu aku dihormati karena mempunyai uang yang melimpah…”
·           Tidak bertanggung jawab.
Bukti     : Gunarto: “Waktu aku berumur 18 tahun tak lain yang terbayang dan terlihat di bola mataku hanya gambaran Ayah yang telah sesat itu yang melarikan diri dengan seorang perempuan asing yang lalu meyeretnya ke lembah kesengsaraan. Lupa kepada anak dan istrinya juga lupa kepada kewajibannya karna nafsunya yang telah membuatnya ke pintu neraka.”
·           Sadar diri.
Bukti     : “Aku memang berdosa. Aku mengaku dan itulah sebabnya aku kembali ke sini untuk memperbaiki kesalahan dan dosaku.”
Tina (Ibu) :
·             Pemaaf dan masih mau menerima Raden Saleh.
Bukti     : “Mari duduk dan temuilah mereka.”
Maemun: “…tapi bang Ibu sudah memaafkannya.”
·             Mencintai keluarga dengan merawat ketiga anaknya.
Bukti     : “Anak-anak sudah pandai sudah mempunyai penghasilan masing-masing.”

Gunarto :
·           Pendendam.
Bukti     : “Jika memang mempunyai seorang Ayah. Maka Ayah itulah musuhku yang sebesar-besarnya!”
·           Keras kepala.
Bukti     : “Jika kami punya Ayah untuk apa kami membanting tulang selama ini?”
“Semua ini adalah karena ulah Ayah! Hingga Mintarsih harus menderita pula! Sejak kecil Mintarsih sudah merasakan pahit getirnya kehidupan. Tapi kita harus mengatasi kesulitan ini,Bu! Harus! Ini kewajibanku sebagai abangnya, aku harus lebih keras lagi berusaha!”
·           Kejam.
Bukti     : “Sejak kapan kami memiliki seorang Ayah? Kami tidak punya seorang Ayah!”
“Aku telah membunuh Ayahku sendiri! Ayahku pulang!”

·           Pemarah.
Bukti     : “Jangan kau membela dia! Ingat, siapa yang membesarkan kau! Kau lupa! Akulah yang membiayaimu selama ini dari penghasilanku sebagai kuli dan kacung suruhan! Ayahmu yang sebenar-benarnya adalah aku!”
Maemun :
·           Penurut.
Bukti     : Raden Saleh (Ayah) : “Maemun maukah kau mengambil segelas air minum untuk Ayahmu?”
Maemun : “Iya Ayah.”
·           Anak yang mencintai keluarganya.
Bukti     : “Tapi lihat bang lihat kasihan Ayah yang sudah tua.”
“…bang Narto kita adalah darah dagingnya bagaimanapun buruk baiknya dia kita tetap anaknya bang yang harus merawatnya.”
·           Pemaaf.
Bukti     : .“…bang Narto kita adalah darah dagingnya bagaimanapun buruk baiknya dia kita tetap anaknya bang yang harus merawatnya.”
Mintarsih :
·         Penurut.
Bukti     : Tina (Ibu) : “…Mintarsih dia itu membantuku menjahit.”

·         Pemaaf.
Bukti     : “…dia Ayah kita bang Ayah kita sendiri!”

3.      Kesimpulan

Watak yang ada dalam tokoh dari naskah drama Ayahku Pulang dapat terlihat dan tergambarkan dengan jelas. Gunarto sebagai tokoh utama yang sangat membenci ayahnya akibat ditinggal tanpa kabar harus berhadapan dengan ibunya yang masih menunggu sang ayah untuk pulang. Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan dalam naskah drama ini merujuk kepada malam takbiran yang tidak seperti malam takbiran. Yang seharusnya keluarga berkumpul penuh suka dan cita, namun karena sosok Gunarto dengan watak keras kepala dan pendendamnya tega menolak sang ayah yang ingin kembali kepada keluarganya.

4.      Rancangan Pembelajaran

Sesuai dengan Kurikulum 2013 revisi 2018, Permendikbud No. 37 tahun 2018. Makalah ini sesuai pada jenjang:
a.       VIII
KD 3.15 Mengidentifikasi unsur-unsur drama (tradisional dan moderen) yang disajikan dalam bentuk pentas atau naskah.
KD 3.16 Menelaah karakteristik unsur dan kaidah kebahasaan dalam teks drama yang berbentuk naskah atau pentas.
b.      XI
KD 3.19 Menganalisis isi dan kebahasaan drama yang dibaca atau ditonton.
KD 4.18 Mempertunjukkan salah satu tokoh dalam drama yang dibaca atau ditonton secara lisan.

Daftar Pustaka


No comments:

Post a Comment

Skenario Pembelajaran di Kelas

SKENARIO PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENGARUH METODE PEER-CORRECTION TERHADAP PENGEMBANGAN CERITA RAKYAT KE DALAM BENTUK CERITA PENDEK PADA...